Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan
Chapter 3: Scar Tissue and Silent Symphonies
Kabut senja menguning menerobos jendela perpustakaan ketika Alya menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku ‘Teori Ekonomi Makro’. Sisa aroma solar dari bengkel tempat Raka bekerja paruh waktu masih menempel di jaket sekolahnya tadi siang—bau yang kini selalu membuat tenggorokannya sesak. Jemarinya membuka lipatan kertas berisi jadwal shift Raka di bengkel, tergores coretan ‘Psychopath Crew Sabtu Malam!’ dengan tipe-x putih di atasnya.
Pecahan suara obrolan dari luar membuatnya menoleh. Di koridor, Raka berpose sambil memegang helm racing baru warna neon. Lima anggota gengnya mengelilinginya seperti satpaw pengawal presiden. “Tarif nge-drag jam 9 malem, Neng,” teriak salah satu mereka saat melihat Alya. Gelak tawa riuh memecah kesunyian perpustakaan.
Tangan Alya gemetar membalik halaman. Kutipan tentang elastisitas permintaan pasar berubah jadi blur. Tiba-tiba...
"Inflasi terbesar bukan pada nilai uang, tapi pada janji yang menguap,"
Suara itu kelu namun penuh kehangatan, datang dari balik rak buku sejarah kuno. Alya mengernyit melihat bayangan tinggi kurus membungkuk di depan katalog Dewey Decimal 811—seksi puisi. Bau eucalyptus dan minyak kayu putih menyelinap menggantikan aroma solar.
Pemilik suara itu muncul—rambut ikal hitam menutupi alis, kacamata bundar dengan ketebalan lensa yang membuat bola matanya terlihat lebih besar. Seragamnya terlalu rapi, terutama badge nama yang bertuliskan ‘Nino’ tanpa marga. Di tangannya tergenggam buku puisi Taufik Ismail yang sama dengan yang dibeli Alya di toko tua kemarin.
"Kamu..." Alya menatap badge sekolah yang berbeda—lambang SMA Harapan Bangsa, sekolah pinggiran kota. "Baru pindah?"
Nino hanya mengangguk sambil membuka halaman tertentu. Coretan pensil berbentuk partitur musik terlihat di margin kertas. "Decrescendo," bisiknya tiba-tiba. "Suasana hari ini berpendar redup, seperti orkestra yang kehilangan violin pertamanya."
Mereka duduk diam di sudut yang sama selama tiga jam. Alya menyadari ritme napas Nino yang sinkron dengan detak jam dinding tua. Sesekali dia mencuri pandang ke tangan Nino yang penuh scar tissue berbentuk seperti sambaran petir—luka yang membuatnya selalu memakai sarung tangan katun ketika memegang buku.
Hujan mulai deras ketika Raka masuk tanpa permisi. Bau basah dari jaket kulitnya menyerbu seisi ruangan. "Al, lo belum pulang?" Dia meletakkan helm di atas tumpukan buku referensi. "Geng ada acara dadakan. Mungkin..."
Nino tiba-tiba berdeham. "Sonata in C Minor, Opus 111," gumamnya tanpa melihat. "Komposisi terakhir Beethoven sebelum tuli total. Di bagian finale, suara pianoforte bergetar seperti kristal retak."
Sesuatu pecah dalam diri Alya ketika Raka membanting pintu perpustakaan—sama persis dengan bunyi piring favorit ibunya yang pernah dipecahkan ayahnya malam sebelum mereka bercerai. Air matanya jatuh membasahi tabel produksi nasional. Tetesan hangat itu tiba-tiba terhenti oleh sehelai saputangan katun berborder bunga edelweis.
"Rushes grow on patches where fire once danced," Nino membacakan puisi dari buku yang mereka bagi. Tangannya yang bersarung dengan canggung menunjuk diagram panel surya di buku fisika Alya. "Solar cell perlu cahaya untuk bekerja. Hati juga."
Mereka pulang bersama di bawah satu payung compang-camping bermotif partitur musik. Hujan menyepuh jalanan dengan kilau minyak bumi. Di persimpangan lampu merah, raungan geng motor Psycho Crew melintas seperti armada perang. Alya melihat Raka di barisan paling depan—Sanggar mengapitnya sembari melilitkan tangan di pinggangnya.
Di depan gerbang rumah Alya, Nino mengeluarkan sesuatu dari tas daur ulangnya—kaktus mini dalam pot keramik pecah belah yang sudah direkatkan emas kintsugi. "Tanaman gurun," ujarnya sambil menatap lampu kamar orang tua Alya yang gelap. "Bisa bertahan tanpa hujan bertahun-tahun tapi tetap menghasilkan bunga."
Malam itu, ketika Alya menyiram kaktus dengan air mata dan sedikit air mineral, ponselnya bergetar. Notifikasi IG Story Raka: video slowmotion wheelie di jalan basah dengan backsound lagu kesukaan mereka dulu—‘Can’t Help Falling in Love’ versi punk rock. Video terakhir dalam highlights itu foto Sanggar memakai liontin huruf R milik Raka.
Tepat pukul 00.03—tiga menit setelah hari berganti—pesan dari nomor tak dikenal masuk: “The scar tissue in my palms used to hold solar flares. Now they just cradle wilted dandelions.” Attach foto buku puisi Taufik Ismail halaman 71 yang penuh coretan aransemen musik.
Di balik jendelanya, sebatang pohon jeruk purut bergoyang meski tidak ada angin. Bayangan sosok kurus melintas cepat—konon, anak lelaki yang mengoleksi kepolosan dalam toples bekas selai itu baru saja meletakkan sesuatu di pagar rumahnya: botol kaca berisi origami bintang warna ungu dengan coretan stave musik.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.