Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan
Chapter 2: Cahaya di Balik Asap Knalpot
Kabut pagi menyelimuti lapangan basket ketika Alya tiba lebih awal untuk membersihkan locker-nya yang dipenuhi pamflet konser band lokal. Jemarinya menyentuh foto polaroid yang terselip di celah pintu locker—gambar dirinya dan Raka tahun lalu dengan seragam putih-biru, sedang meniup dandelion di taman kota. Sekarang, sudut fotonya keriting terkena percikan minyak rem yang selalu menempel di tangan Raka.
Deru mesin Kawasaki Ninja 250 menyibak kabut. Raka turun dengan gaya khasnya—sepatu boots hitam menginjak aspal basah, helm berlogo tengkorak digantungkan di stang. Dulu dia selalu menunggumu di depan gerbang, pikir Alya. Kini tangannya bahkan tak lagi memegangkan helm cadangan untukmu.
"Lo tahu hari ini kita harus revisi proposal Magang Dinas bareng, kan?" tanya Alya saat menyusul Raka di koridor. Suaranya tenggelam oleh obrolan riuh geng motor yang sedang membanding-bandingkan modifikasi knalpot baru.
"Al, bentar ya. Ini lagi bahas konvoi akhir bulan," bisik Raka sambil mengepulkan asap vape rasa mangga—rasa yang dulu selalu dia ejek terlalu kekanakan. Mata Alya menatap tajam tato temporer di lehernya bertuliskan "RIDE OR DIE".
Sepanjang pelajaran Ekonomi, kursi sebelah Alya kosong. Raka membolos bersama gengnya untuk uji coba motor ke jalur turing di bukit. Aroma kopi hitam dalam termos Alya semakin pahit, menyisakan rasa getir di lidah. Di ponselnya, notifikasi IG Story Raka berderet: video wheelie di jalan sepi, pose macho di depan kafe, dan satu foto grup dengan Sanggar duduk di pangkuannya—gadis itu tersenyum sinis sambil memegang helm Raka.
Matahari tepat di zenith ketika Alya memutuskan makan siang di gazebo tua dekat lapangan voli. Kotak bekalnya berisi nasi kuning dengan telur dadar—resep spesial yang dulu sering dipuji Raka. Tiba-tiba...
Sepotong kertas lipat jatuh dari pohon mangga di depannya. Ketika dibuka, coretan tinta biru berbunyi: "Bunga kertasnya layu oleh asap knalpot" dengan gambar karikatur anak perempuan meniup dandelion. Alya menoleh ke sekeliling, tapi hanya melihat bayangan seseorang berlalu di balik gedung teater.
Jam pelajaran terakhir diisi kegetiran baru. Raka muncul dengan jaket geng berlumur lumpur, wajahnya bersemu kemenangan. "Al, kita batal revisi proposal ya? Geng baru aja menang taruhan lomba drag race!" Dia mengeluarkan selembar uang lima ratus ribuan yang dicelupkannya ke dalam botol bir—gebukan yang membuat kawan-kawannya tertawa riuh.
Saat bel pulang berbunyi, Raka langsung menghilang dalam kepulan asap knalpot bersama konvoi gengnya. Alya berdiri sendiri di gerbang sekolah memandangi strip plastik kuning tergerai di aspal—sisa perayaan kemenangan yang terinjak-injak.
Di perjalanan pulang, langit kelabu mulai menitikkan hujan. Alya mampir ke toko buku tua di sudut jalan. Di antara rak-rak buku usang, matanya tertarik pada buku puisi tua dengan bookmark dari helai daun kering. Selembar catatan rontok: "Bahkan hujan pun tak sanggup membersihkan debu di hati." Pemilik toko, nenek renta dengan kacamata tebal, tersenyum bijak: "Buku itu sudah ditunggu seseorang."
Malam itu, di kamarnya yang dipenuhi hadiah-hadiah anniversary dari Raka, Alya membuka laci rahasia. Segumpal kain flanel biru terbuka—berisi janji-janji tertulis yang dulu mereka tukarkan: "Aku akan menemanimu nonton konser setiap bulan", "Takkan pernah bikin lo nunggu lebih dari 5 menit", "Kalau marah, ingetin pakai es krim stroberi". Langit malam di luar jendela bergemuruh, membawa air mata pertama setelah sekian lama.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.