Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta
Chapter 1: Senyap di Balik Senyuman
Pagi itu menyiram SMA Permata dengan cahaya keemasan, menyinari seragam putih abu-abu yang berlalu lalang di koridor. Di antara keramaian, Raka dan Alena berjalan berdampingan seperti dua potong puzzle yang sempurna—tangan Raka melingkar di pinggang Alena dengan kepemilikan yang membuat setiap mata mencuri pandang. 'Lihat mereka, kayak cerita dongeng,' bisik salah seorang murid kelas 10 sambil mendorong kacamata.
Tapi pandangan Alena kosong menatap mozaik lantai saat Raka berbicara tentang jadwal latihan basketnya untuk kesekian kalinya minggu ini. 'Nanti aku antar kamu ke kelas dulu, ya?' ujarnya tanpa menoleh, jempolnya masih asyik menggeser layar ponsel yang selalu bergetar dengan notifikasi grup timnya.
Di kantin saat jam istirahat, Alena memainkan sedotan plastik di jus jeruknya yang mulai menggumpal. 'Aku kemarin nemu lagu bagus—' ucapnya tiba-tiba, tapi Raka sudah menyela dengan cerita pelatih baru yang menurutnya 'sok idealis'. Ia mengangguk otomatis, mencatat bagaimana garis rahang Raka menjadi lebih tajam saat bersemangat—tapi semangat yang sama sekali tak menyisakan ruang untuk menanyakan lagu apa yang ingin dia bagikan.
Matahari sore mengubah lapangan basket menjadi ember kuning ketika Raka berlari meninggalkannya usai jam sekolah. 'Maaf, Lena, kita latihan dadakan!' teriaknya sambil berlari mundur. Alena tersenyum tipis, menahan tasnya yang tiba-tiba terasa lebih berat. Di bis pulang, kepalanya menempel pada kaca jendela yang bergetar; bayangan Raka di layar ponsel—mengirim satu sticker wajah lucu—terpantul di atas bayangannya sendiri yang sudah tak lagi tersenyum.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.