Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Chapter 2: Ritme yang Pudar

Pintu lift sekolah menganga seperti mulut yang kelelahan menelan murid-murid yang berdesakan. Alena berdiri di samping Raka yang asyik memainkan jersey basket di tasnya, napasnya masih terengah dari lari menyusul bel tanda masuk. 'Tadi latihannya brutal banget,' ujarnya sambil mengusap keringat di pelipis tanpa melihat ke arah Alena yang mencoba menyelipkan sebotol air mineral ke tangannya. Botol itu tergantung di udara selama tiga detik sebelum akhirnya direngkuh Raka dengan gerakan otomatis—seperti ritual wajib yang sudah kehilangan makna.

Matahari jam sembilan pagi menyusup melalui jendela kaca perpustakaan, menimpa punggung Alena yang membungkuk di meja belajar. Di seberangnya, Raka mendengkur pelan dengan kepala tertelungkup di atas buku terbuka, rambut ikalnya basah oleh ketombe yang mulai muncul sejak tiga bulan lalu. Alena menatap sekumpulan warna kuning di kulit buku tulisnya—coretan sembarangan Raka saat mengobrol di telepon dengan rekan tim waktu pelajaran sejarah minggu lalu. Pola lingkaran itu tumpang tindih dengan tinta biru dari bulpannya sendiri, menyimbolkan betapa hidup mereka sudah terlalu lama saling mengotori tanpa pernah benar-benar menyatu.

Jam istirahat menyuguhkan pemandangan yang akrab: Raka melahap nasi kotak di bangku panjang kantin dikelilingi teman-teman basket, tawanya menggema setiap kali ada lelucon receh tentang pelatih atau pertandingan. Alena duduk di ujung meja yang sama, jari-jarinya bermain dengan remahan kerupuk yang berjatuhan dari piringnya. 'Eh Lena, kamu ikut lomba karya tulis lagi kan?' tiba-tiba Raka menoleh padanya sambil mengunyah. Alena mengangguk, jantungnya berdebar harap. 'Bagus tuh, biar nanti pas aku jadi atlet nasional, kamu bisa jadi penulis biografi aku!' ledeknya disambut gelak kawan-kawannya. Senyum palsu di bibir Alera membeku, lebih kaku dari es batu di gelas jus yang tak kunjung diminum Raka.

Di koridor menuju kelas, langkah Raka selalu lebih cepat tiga setengah langkah di depannya. Hari ini Alena memutuskan tidak mengejarnya. Ia berhenti di depan lorong kelas 11 IPS 2, di mana jendela terbuka membawa aroma melati dari taman sekolah. Sebuah bayangan pendek terpantul di lantai—Raka yang menyadari kehilangannya sedang berbalik badan. 'Lena, kamu kok...' suaranya terengah. Tapi Alena tak lagi melihat wajahnya. Matanya tertuju pada sepasang kupu-kupu kuning yang berkejaran di antara semak berbunga, tubuhnya bergerak bebas dalam pola yang tak bisa ditebak. Kupu-kupu itu memancarkan keindahan yang bahkan tak disadari oleh siapa pun yang lalu lalang di koridor, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, Alena merasa mirip dengan makhluk rapuh itu—terbang sendiri namun merdeka.

Bel pulang sekolah berbunyi ketika Raka menelepon dari lapangan basket. 'Maaf ya, Lena, kita harus lanjut diskusi strategi...' suaranya terputus oleh teriakan seseorang di latar. Alena mengakhiri panggilan tanpa menjawab. Ia menyusuri jalan pulang melewati taman kota tempat mereka biasa kencan, di mana bangku kayu lapuk itu sekarang ditempati pasangan lain yang berbisik mesra. Alena berjalan lebih jauh ke dermaga tua, mendapati air sungai menghitam oleh limbah pabrik baru—seperti perasaannya yang mulai terkontaminasi oleh racun rutinitas. Di saku jaketnya, tangan mungilnya menggenggam tiket konser band indie yang sudah ia beli diam-diam dua pekan lalu. Tiket itu basah oleh keringat telapak tangan, tapi ia sudah memutuskan: malam ini, ia akan menonton sendiri.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca

Lolongan Terakhir di Hutan Kelam

Di sebuah desa terpencil dekat hutan, serangkaian kematian brutal terjadi. Hewan ternak dan manusia ditemukan tewas deng...

Baca

Sehabis Mencintai, Aku Belajar Melepaskan

Kisah Rania bermula dari cinta yang begitu dalam, namun meninggalkan luka yang menghancurkan. Ia berusaha bangkit di ten...

Baca

Primadona Mengejar Pecundang

Dita, primadona dan peringkat pertama SMA Permata Kasih, awalnya menganggap Zeno sebagai siswa bodoh tak berguna. Namun...

Baca

Bukan Untuk Kita Bertiga

Rani, Dira, dan Aldo bersahabat sejak kuliah. Namun semuanya mulai berubah saat Rani diam-diam jatuh cinta pada Aldo, ya...

Baca

Bukan Gamon

Vira baru saja putus dari Hamdan dan merasa dunia runtuh. Ia gagal move on, hingga Hadnyan—teman mantan yang dikenal cue...

Baca