Menara Seratus.
Chapter 1: Gerbang Menara Seratus
Kabut tebal menyelimuti kaki Menara Seratus yang menjulang bak raksasa tidur. Ravi menatap ke atas sambil mengusap bekas luka berbentuk spiral di telapak tangannya yang tiba-tiba terasa panas. Batu-batu kuno menara itu berdenyut pelan seolah hidup, menelan setiap jejak cahaya bulan yang berani mendekat.
Sebuah suara parau menggema dari balik gerbang berukir huruf-huruf tak dikenal. "Penghuni ke-999..." Senyap. Lalu muncul sesosok tubuh keriput dengan jubah hitam yang menyerap cahaya, matanya seperti dua bara api biru. "Kau mencari jawaban, anak muda?" Tangannya yang berbentuk cakar mengulurkan gulungan perkamen yang berpendar lembut.
Sebelum Ravi sempat bertanya, desingan panah tiba-tiba menghujam dinding di samping kepala penjaga gerbang. "Jangan percaya makhluk itu!" Sorot mata hijau bersinar dari atas pohon tumbang. Lira melompat turun dengan busur berukir simbol matahari, rambut pirangnya kusut oleh darah kering. "Dia yang menahankan saudariku di dalam... Tanda di tanganmu—itu berarti kau juga target mereka." Suaranya bergetar antara amarah dan harapan.
Di kejauhan, lolongan mengerikan menggoyang dasar menara. Dinding-dinding mulai mengeluarkan cairan merah pekat, dan peta di tangan Ravi tiba-tiba berdenyut mengikuti irama bekas lukanya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.