Menara Seratus.
Chapter 2: Labirin Daging Bernyawa
Udara lembab berbau anyir menusuk hidung saat Ravi dan Lira terpelanting ke dalam lorong gelap. Dinding-dinding berdenyut seperti organisme raksasa, permukaannya berlendir dan dihiasi urat-urat biru kehijauan yang berdenyut tidak beraturan. 'Ini bukan batu...' bisik Ravi gemetar, telapak tangannya yang terluka kini berpendar kehijauan seperti kunang-kunang beracun. Lira menarik busurnya, mata hijaunya menyipit menatap kegelapan di depan.
Erangan panjang menggema dari segala arah—suara manusia yang terdistorsi, berbaur dengan desis ular dan kertakan gigi. 'Jangan sentuh dinding!' teriak Lira ketika melihat Ravi hampir bersandar. Tepat di tempat yang hampir disentuhnya, daging tembok itu membelah, mengeluarkan deretan gigi runcing yang mencengkram udara.
Kabut hitam tiba-tiba membentuk tubuh di depan mereka. Dua titik cahaya kuning berkedip seperti mata, lalu berlipat-ganda menjadi puluhan, ratusan, mengitari mereka dalam spiral hipnotis. Ravi menjerit ketika gambar-gambar mengerikan tumpah ke pikirannya: mayat ayahnya yang terkulai di sungai, ibu yang matanya kosong tertusuk anak panah... 'Mereka memakan mimpimu...' suara Lira terdengar sangat jauh.
Sinar panah berpendar melesat menembus kabut, diikuti teriakan Lira yang terdengar sakit. Ravi berbalik, melihat gadis itu terjatuh dengan luka bakar aneh di lengan kirinya yang mengeluarkan asap hitam. Kabut monster itu menyusut menjadi bentuk manusia tinggi kurus tanpa wajah, hanya mulut lebar penigi runyam yang menganga, menghisap segumpal cahaya keemasan yang keluar dari dahi Lira.
Bekas luka di tangan Ravi tiba-tiba menyala terang, hijau neon seperti petir yang menyambar. Visi menyergapnya: seorang gadis dengan mata hijau sama seperti Lira terbelenggu rantai di ruang melingkar, dikelilingi tujuh sosok berjubah dengan topeng spiral. 'Penghuni ke-999...' suara dari visi itu bergema. Darah mengalir dari hidung Ravi ketika ia menjatuhkan lutut, sementara bayangan monster itu semakin mendekat, mulut penghisapnya kini mengarah ke ubun-ubunnya.
Lira yang sekarat melemparkan benda kecil dari sakunya—sebuah kristal berbentuk matahari yang meledak dalam cahaya menyilaukan. 'Larinya!' raungnya sambil menarik lengan Ravi. Mereka terjungkal ke celah sempit di balik lipatan daging yang tiba-tiba menganga, jatuh ke dalam kegelapan yang basah dan hangat, sementara erangan marah monster itu mengguncang seluruh labirin.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.