Boss Perkasa
Chapter 1: Pertemuan Yang Mengubah Segalanya
Langit di luar jendela gedung perkantoran bertingkat itu berwarna kelabu, mencerminkan suasana hati Kevin yang sedang gundah. Tangannya yang berkeringat mengepal erat setumpuk dokumen sementara matanya menatap kosong ke monitor komputer. "Aku benar-benar butuh bantuan," gumamnya sendiri, suaranya tenggelam dalam deru AC sentral yang membelah keheningan ruangan.
Dengan langkah tegap yang menyembunyikan kegelisahannya, pria bertubuh atletis itu memasuki ruang rapat di lantai 20. Kaca-kaca tembus pandang memantulkan siluet jas Armani-nya yang sempurna, menyamarkan sedikit gurat kelelahan di wajahnya. "Tim HR sudah mencari sekretaris baru selama seminggu," ujarnya sambil meletakkan iPad Pro di atas meja marmer, "Tapi tidak satu pun yang memenuhi standar."
Di pagi berikutnya, sinar matahari pagi menyelinap melalui tirai Venetian blinds ketika seorang wanita muda berdiri di depan pintu kayu oak. Irene, 24 tahun, menyesuaikan letak kacamatanya yang berbahan titanium ringan sambil mengecek jam tangan Cartier tank-nya untuk kesekian kalinya.
Kevin tertegun saat pertama kali melihatnya. Rambut hitam panjang yang terurai sempurna bak sutera, kulit putih porselen yang kontras dengan blazer Chanel tweed warna krem, serta mata tajam di balik lensa kacamata yang memancarkan kecerdasan. "Lulusan magna cum laude dari Harvard Business School," batinnya sambil menelusuri dokumen CV di tangannya.
Irene: "Saya percaya efisiensi adalah nyawa bisnis, Pak. Sistem pengarsipan digital yang saya kembangkan di perusahaan sebelumnya bisa mengurangi 40% waktu pencarian dokumen."
Percakapan mereka berlanjut selama satu jam penuh. Dari manajemen waktu hingga strategi komunikasi bisnis, Irene menjawab setiap pertanyaan dengan presisi layaknya mesin. Kevin tak bisa menyembunyikan senyum kepuasan ketika wanita itu dengan lincah mendemonstrasikan kemampuannya mengoperasikan tiga perangkat sekaligus sambil tetap menjaga kontak mata.
"Kamu diterima," ujar Kevin tiba-tiba, "Tapi dengan masa percobaan tiga bulan." Jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu eboni. "Besok langsung mulai. Saya ingin kamu menemani meeting dengan klien Jepang pukul 8 pagi."
Irene hanya mengangguk pelan, senyum tipis mengembang di bibirnya yang dioles lipstik nude. Di balik kacamata bulannya, ada kilatan ambisi yang membuat Kevin penasaran. Ruangan yang tadinya terasa dingin oleh AC kini seperti dihangatkan oleh energi tak terlihat antara dua orang profesional ini.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.