Obsesiku terhadap istriku, eh malah ......
Chapter 3: Bisikan Malam yang Menggoda
Keringat masih membasahi tubuh kami yang terbaring lemas di atas ranjang. Nafas kami terengah-engah setelah pertempuran malam ini. Aku menatap wajah istriku yang memerah, bibirnya yang merekah masih terlihat sensual. Tanganku mengusap rambutnya yang acak-acakan akibat permainan kami tadi.
Istriku membalas tatapanku dengan senyuman malu-malu. Tangannya yang halus mengusap dadaku yang bidang. "Mas, kamu kok malam ini aneh banget sih. Dari tadi ngomongnya melulu tentang aku sama cowok lain," ucapnya pelan.
Aku tersenyum licik. "Iya sayang, aku cuma ngebayangin aja kok. Gimana rasanya kalo nanti kamu dientot sama pria lain di depan mataku. Pasti seru banget kan?" godaku.
Wajah istriku langsung berubah merah padam. "Mas, jangan gitu dong. Aneh tau. Nanti orang mikir macem-macem," tolaknya.
Aku menggeleng pelan sambil mengelus pipinya. "Enggak sayang, aku serius. Aku penasaran aja gimana rasanya kalo kamu dipijat sama terapis cowok. Pasti enak banget kan dipijitin sama tangan-tangan kekar mereka."
Istriku mengerutkan kening. "Pijat sih boleh aja, kan emang ada manfaatnya buat kesehatan. Tapi masa iya sih sampai kepikiran yang aneh-aneh."
Aku mengangguk mantap. "Beneran sayang, aku pengen banget liat kamu dipijat sama terapis cowok. Pasti dia bakal remas-remas punggung kamu yang mulus itu dengan tangannya yang besar. Terus dia pijit-pijit pantat kamu yang montok."
"Ih mas, jangan gitu dong. Nanti dia malah salah tingkah. Malu aku," ucap istriku sambil mencubit lenganku.
Aku tertawa kecil. "Enggak sayang, justru aku yang malah excited liat kamu dipijat sama dia. Pasti dia bakal seneng banget megang-megang tubuh mulus kamu."
Istriku diam, wajahnya memerah. Sepertinya ia membayangkan hal yang baru saja aku utarakan.
Aku melanjutkan rayuanku. "Terus sayang, abis dipijit punggung sama pantat, pasti dia bakal minta kamu telentang. Terus dia pijit-pijit paha kamu yang putih mulus itu. Tangannya yang besar bakal naik turun dari lutut sampai pangkal paha."
Istriku menggelinjang kecil mendengar kata-kataku. Tangannya yang tadinya mengelus dadaku kini meremas lenganku.
Aku semakin bersemangat. "Terus sayang, abis paha, pasti dia bakal pijit-pijit perut kamu yang rata. Terus tangannya naik ke atas. Dia bakal remas-remas toket kamu yang montok itu."
Istriku mendesah pelan. "Mas, jangan gitu dong. Nanti dia malah salah tingkah. Malu aku."
Aku menggeleng mantap. "Enggak sayang, justru aku yang malah seneng banget liat dia remas toket kamu. Pasti dia bakal seneng banget ngerasain toket kamu yang kenyal itu."
Istriku diam, nafasnya mulai terengah. Sepertinya ia mulai terangsang dengan bayangan yang aku lukiskan.
Aku melanjutkan. "Terus sayang, abis toket, pasti dia bakal minta kamu buka CD. Terus dia bakal pijit-pijit memek kamu yang tembem itu. Tangannya yang besar bakal gesek-gesek itil kamu."
Istriku menggelinjang hebat mendengar kata-kataku. Tangannya yang tadinya meremas lenganku kini meremas sprei.
Aku semakin bersemangat. "Terus sayang, abis pijit memek, pasti dia bakal minta ijin mau jilat memek kamu. Dia bakal sedot itil kamu sampai kamu mendesah keenakan."
Istriku mendesah pelan. "Mas, jangan gitu dong. Nanti dia malah salah tingkah. Malu aku."
Aku menggeleng mantap. "Enggak sayang, justru aku yang malah seneng banget liat dia jilat memek kamu. Pasti dia bakal seneng banget ngerasain memek kamu yang legit itu."
Istriku diam, nafasnya terengah-engah. Sepertinya ia sudah sangat terangsang dengan bayangan yang aku lukiskan.
Aku tersenyum puas melihat reaksi istriku. Sepertinya fantasiku mulai tertanam di benaknya. Aku yakin, perlahan tapi pasti, ia akan menuruti kemauanku.
Malam itu kami pun tertidur dalam dekapan hangat, dengan bayangan pijat sensual terapis pria masih membayangi benak kami berdua.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.