Obsesiku terhadap istriku, eh malah ......
Chapter 2: Rintihan Malam
Keringat masih membasahi tubuh kami yang terbaring lemas di atas ranjang. Nafas kami terengah-engah setelah pertempuran malam ini. Aku menatap wajah istriku yang memerah, bibirnya yang merekah masih terlihat sensual. Tanganku mengusap rambutnya yang acak-acakan akibat permainan kami tadi.
Istriku membalas tatapanku dengan senyuman malu-malu. Tangannya yang halus mengusap dadaku yang bidang. "Mas, kamu kok malam ini aneh banget sih. Dari tadi ngomongnya melulu tentang aku sama cowok lain," ucapnya pelan.
Aku tersenyum licik. "Iya sayang, aku cuma ngebayangin aja kok. Gimana rasanya kalo nanti kamu dientot sama pria lain di depan mataku. Pasti seru banget kan?" godaku.
Wajah istriku langsung berubah merah padam. "Mas, jangan gitu dong. Aneh tau. Nanti orang mikir macem-macem," tolaknya.
Aku menggeleng pelan sambil mengelus pahanya yang mulus. "Ah kamu terlalu kolot. Coba deh dibayangin, pasti seru banget. Kamu bakal jadi ratu malam yang diperebutin banyak pria. Aku juga pasti bangga punya istri secantik dan seseksi kamu," rayuku.
Istriku menggelinjang kegelian merasakan elusan tanganku. "Ih mas, jangan gitu dong. Nanti aku jadi geli. Lagian aku kan udah tua. Mana ada pria yang mau sama aku," bantahnya merendah.
Aku langsung mencubit pinggangnya gemas. "Dasar bodoh. Kamu kan bodynya masih bagus. Toket sama memek kamu tuh idaman para pria. Apalagi memek kamu yang tembem berjengger itu. Pria mana yang nggak ngiler?" godaku.
Wajah istriku semakin merah mendengar rayuanku. "Ih mas, jangan gitu dong. Malu tau," ucapnya sambil menutupi wajah dengan bantal.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya yang menggemaskan. Tanganku meraih bantal itu dan melemparkannya ke lantai. "Kamu mah cantik banget. Body kamu juga masih hot. Masa sih nggak ada yang mau?" ucapku meyakinkan.
Istriku tersenyum malu-malu mendengar pujianku. "Iya deh kalo kata mas sih gitu. Tapi aku tetep nggak mau dientot sama pria lain. Itu aneh banget," ucapnya tegas.
Aku menghela nafas pelan. "Ya udah deh kalo kamu belum siap. Tapi bayangin aja dulu gimana rasanya. Pasti seru kan?" tanyaku menggoda.
Istriku diam sejenak, sepertinya sedang membayangkan hal yang baru saja kukatakan. "I.. iya juga sih kalo dipikir-pikir. Tapi aku tetep nggak mau beneran kok. Cuma hayalannya aja," ucapnya pelan.
Aku tersenyum puas mendengarnya mau membayangkan hal itu. "Nah gitu dong. Kapan-kapan kita coba deh pake mainan biar seru. Kayak dildo atau vibrator gitu," saranku.
Istriku menggeleng cepat. "Ih mas, jangan gitu dong. Malu tau. Lagian aku takut kesakitan," tolaknya.
Aku mengusap pahanya pelan. "Nggak kok sayang. Pasti enak kok. Lagian aku juga kan yang pegang. Jadi nggak bakal sakit," bujukku.
Istriku masih terlihat ragu. "I.. iya deh kalo kata mas sih gitu. Tapi jangan dipaksa ya. Nanti aku takut," pintanya.
Aku mengangguk mengerti. "Iya sayang. Aku nggak bakal paksa kok. Kita kan partner. Jadi harus kompak dan saling pengertian," ucapku menenangkan.
Istriku tersenyum mendengarnya. "Iya mas. Makasih ya udah pengertian sama aku," ucapnya.
Aku memeluk tubuhnya yang sintal. "Kamu kan istriku. Aku harus sayang dan jagain kamu selamanya," bisikku mesra.
Istriku membalas pelukanku. "Aku juga sayang banget sama mas. Kalo bukan karena mas, mungkin aku udah nggak ada yang mau sama aku," ucapnya.
Aku mencubit pinggangnya gemas. "Dasar bodoh. Kamu kan cantik banget. Pasti banyak yang mau kok sama kamu," godaku.
Istriku tertawa kecil mendengarnya. "Iya deh kalo kata mas sih gitu. Tapi aku cuma mau sama mas kok. Nggak ada yang lain," ucapnya mantap.
Aku tersenyum mendengarnya. "Aku juga cuma mau sama kamu sayang. Kamu kan ratuku. Cuma kamu yang bisa bikin aku bahagia," ucapku.
Istriku memeluk tubuhku erat. "Aku juga cuma mau sama mas. Kalo bukan mas, aku nggak mau sama yang lain," ucapnya.
Aku membalas pelukannya. "Iya sayang. Aku juga cuma mau sama kamu. Kamu kan nyawaku. Hidup aku nggak bakal lengkap kalo tanpa kamu," bisikku.
Kami berpelukan mesra, menikmati sisa-sisa kehangatan malam ini. Sesekali kami saling mengecup kening, pipi, atau bibir. Memadu kasih seperti sepasang kekasih yang baru menikah.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Aku memandang wajah istriku yang sudah mengantuk. "Udah ngantuk sayang?" tanyaku.
Istriku mengangguk pelan. "Iya mas. Tadi kan kita mainnya lama banget. Jadi sekarang aku jadi ngantuk banget," ucapnya.
Aku tersenyum mendengarnya. "Iya deh kalo kamu udah ngantuk. Ayo kita tidur. Besok kan harus bangun pagi buat kerja," ucapku.
Istriku mengangguk setuju. Kami pun berbaring di atas ranjang, saling berpelukan. Aku memeluk tubuhnya dari belakang, tanganku melingkar di perutnya. Istriku memegang tanganku, sesekali mengusapnya.
Kami pun terlelap dalam pelukan masing-masing, ditemani dinginnya malam dan kehangatan tubuh pasangan. Mimpi indah pun menemani tidur kami, hingga pagi menjelang.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.