ukhti xxx
Chapter 1: Gairah Terlarang
Rumah tampak sepi saat Namira pulang dari kampus. Sudah jam 3 sore dan biasanya adik-adiknya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Namira melepas sepatu dan berjalan pelan menuju kamarnya di lantai dua.
Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh dari kamar Irfan, adik keduanya. Suara desahan dan erangan yang tidak asing lagi bagi Namira. Dengan hati-hati, dia mendekatkan telinga ke pintu.
Suara itu semakin jelas. Ada suara Irfan, lalu Rizki dan Rendy menyusul. Mereka seperti sedang membicarakan sesuatu dengan suara berbisik penuh nafsu.
"Aah Irfan, kontol kamu gede banget deh... kayaknya muat nih ngentotin si Namira yang alim itu," ujar Rizki dengan suara serak.
"Iya lah, Namira tuh kelihatannya alim padahal nafsu banget. Apalagi pas dia senyum genit di TikTok. Pasti aslinya lonte muslimah kayak gitu," timpal Rendy.
Kuping Namira memanas mendengar ucapan adik-adiknya. Mereka sedang melakukan masturbasi bersama sambil membayangkan dirinya? Dan menyebutnya dengan sebutan-sebutan melecehkan?
"Hijab pemuas kontol nih pasti aslinya. Biar kelihatan alim, tapi dalamnya mau dikasih sperma kita bertiga," ujar Irfan dengan nafas memburu.
Mereka terdengar semakin terangsang, saling membangkitkan gairah dengan membayangkan Namira sebagai objek seksual mereka. Hati Namira campur aduk antara marah, jijik, dan... entah kenapa ada rasa aneh yang muncul di dadanya.
"Kalo aja Namira mau jadi lonte muslimah kita di rumah ini, pasti enak banget. Tiap hari bisa kita entotin pake hijabnya," Rizki melantur penuh nafsu.
Kata-kata Rizki membuat imajinasi Namira melayang. Bayangan dirinya diperlakukan seperti itu oleh adik-adiknya sendiri... Tidak, itu salah! Tapi mengapa jantungnya berdetak kencang membayangkannya?
Suara desahan semakin keras. Mereka sudah di puncak kenikmatan, membayangkan Namira sebagai pelampiasan nafsu mereka. Tanpa sadar, Namira membasahi bibirnya sendiri, tubuhnya terasa panas.
"Hhh... Hhh..." Namira menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dia harus segera menjauh dari situasi memalukan ini. Tapi kakinya terasa berat untuk melangkah.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Mengapa dia justru terangsang mendengar adik-adiknya membayangkan hal-hal mesum tentang dirinya? Namira menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran kotor itu.
Dengan langkah gontai, akhirnya dia berbalik dan menjauhi kamar itu. Tapi bayangan adik-adiknya membayangkan dirinya dengan penuh nafsu terus menghantui benak Namira. Sesuatu dalam dirinya seolah terbangkitkan oleh situasi ini...
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.