Dungeon Itu Memilihku
Chapter 4: Darah dan Keringat
Keringat dingin mengalir di punggung Aldi sebelum mereka masuk. Tiga hunter berpengalaman memeriksa senjata mereka dengan gerakan otomatis. Pisau belati diasah singkat, ketapel dibebani peluru baja, celah-celah baju zirah disekrup kencang. Bau oli dan serbuk mesiu menusuk di pagi buta.
"Ambongin aja barang-barang gua," kata seorang hunter berkumis tebal sambil melempar ransel ke Aldi. Tas itu tiga kali lebih berat dari yang ia kira, membuat lututnya bergemeretak. "Tetep di belakang. Jangan jadi pahlawan."
Portal Gua Bekicot berkedip seperti layar rusak. Udara dingin tidak wajar keluar dari mulutnya yang menganga. Aldi melangkah melewatinya, dan dunia bergeser. Suara mobil dan burung lenyap seketika. Diganti gema tetes air yang berdentang di kejauhan—dan geraman sesuatu yang hidup.
Dunia barunya berbau tanah lembap membusuk dan urin hewan. Helm besi bekas membatasi pandangannya menyamping. Tim bergerak dalam formasi ketat: dua petarung depan bersenjata tombak pendek, seorang wanita bertato api di lengan sebagai jarak menengah dengan ketapel, Tari si pemandu, dan Aldi paling belakang menarik gerobak logistik roda dua.
Geraman itu makin keras. Aldi melihat bayangan berlompatan di dinding gua berlumut sebelum wujud aslinya muncul. Seekor makhluk sebesar anjing, berkulit abu-abu berbintil, gigi taringnya berdarah segar. Bau amis langsung menusuk hidung.
Tubuh Aldi membeku. Otot kaki mengeras seperti semen. Ia mendengar ketapel wanita itu melepaskan tiga peluru baja beruntun—*dak, dak, dak*—disusul jeritan melengking monster pertama yang ia lihat. Hunter tombak maju, menusuk bangkai yang masih menggeliat.
Bunyi urat daging terkoyak. Percikan darah hitam. Loki—hunter berkumis—menginjak kepala makhluk itu hingga pecah seperti semangka busuk. Tidak ada sorakan. Hanya anggukan singkat antar mereka sebelum melanjutkan.
Aldi berusaha tidak melihat genangan kental di tanah. Tapi baunya menempel di tenggorokan: logam dan daging mentah. Napasnya bergetar dalam helm sempit yang membuat telinganya berdenging.
Sepatu botnya tersandung batu. Gerobak logistik bersuara berdecit. Dari kegelapan lorong samping, sepasang mata kuning menyala berputar ke arahnya. Kakinya lumpuh lagi. Loki melemparkan pisau belati tepat di antara dua mata itu dengan gerakan santai, seperti membuang puntung rokok.
"Awasin barang," gerutnya sambil mencabut pisau berlumur cairan hijau. "Jangan bikin gw ulang kerjaan."
Baru beberapa meter masuk gua, seragam Aldi sudah basah oleh keringat dan udara lembap. Pundaknya sakit dihantam ransel logistik. Tapi semua itu tidak seberapa dibanding realisasi yang kini menggumpal di dadanya: di tempat ini, satu kesalahan kecil akan membuatnya lenyap tanpa jejak.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.