Dungeon Itu Memilihku
Chapter 3: Bayar Tagihan
Kartu kredit Aldi ditolak mesin EDC mini market. Layar merah menyala: LIMIT TERLAMPAUI. Ia menggesek lagi—siapa tau sistem salah—tapi kasir sudah menarik kembali sabun mandi dan mi instan di konveyor. "Cash saja," katanya tanpa ekspresi. Aldi mengeluarkan sisa uang kertas lecek dari dompet. Genangan air hujan masih menempel di sepatunya ketika melangkah keluar.
Ponsel bergetar. Ibu. Ia diamkan. Tiga notif berjejer di layar: tagihan listrik, kontrakan, dan satu pesan singkat dari adiknya: Buku praktikum semester ini lebih mahal, Bang. Angin malam menusuk jaket tipisnya saat ia melihat papan reklame guild hunter ternama yang menyala-nyala di atas halte bus: gaji fantastis, bonus dungeon, asuransi jiwa premium.
Pusat perekrutan hunter di kawasan industri selatan jauh dari glamor. Truk-truk pengangkut logistik dungeon parkir sembarangan. Aldi melewati stan guild besar berbendera emas tempat Grade A berkumpul. Seorang wanita berbaju ketat tertawa sambil memegang kontrak tebal: "…dan benefit liburan ke resor bawah laut!" Layar plasma di atasnya menampilkan hunter-hunter tersenyum memamerkan luka prestisius.
Area Grade F ada di belakang gudang penyimpanan. Hanya tiga stan meja lipat tersisa. Dua petugas sedang merokok di luar. Aldi melihat fotokopi kontrak di meja guild ketiga—logo samar bertuliskan "Batu Karang". Isinya satu halaman: gaji dasar UMR + 20%, tidak ada bonus kematian, potongan 15% jika gagal penugasan.
"Porter baru?" Suara serak datang dari wanita berkerudung di belakang meja. Nametag-nya bertuliskan Tari. "Kami perlu orang untuk bawa logistik raid besok pagi. Bayaran 200 ribu per shift. Tidak ada training." Tangannya menunjuk foto kusam di dinding: tim enam orang berfoto angkuh di depan portal dungeon kelas D. "Kami kecil, tapi raid rutin."
Tari menjelaskan sambil menyuapi nasi kotak: persetujuan risiko tidak perlu tanda tangan notaris, helm besi bekas bisa dipinjam, bayaran cair setelah misi selesai. Di dinding kantor semi-basement mereka, peta dungeon bertumpuk dengan jadwal raid. Aldi melihat satu nama di pojok: Gua Bekicot, frekuensi muncul: 3x minggu ini. Tapi coretan merah menutupi catatan di bawahnya.
"Kami ambil porter Grade F karena biaya operasional murah," Tari terus terang sambil menyerahkan pulpen murah. "Dan kami punya risiko rendah tewas konyol kayak guild-guild pamer tadi." Tawanya pecah. Aldi menandatangani kontrak di atas kardus bekas kemasan peralatan. Helm bekas yang diberikan masih ada bekas penyok.
Ia berjalan keluar dengan kopi instan gratis dari Tari. Di gerbang kompleks, mobil mewah guild elite lewat membawa peti artefak berpendar. Anggota guild itu tertawa riang dari balik kaca film hitam. Aldi meremas kantong plastik berisi seragam bekas dan helm baja—barang yang membuatnya resmi jadi hunter. Ini bukan jalan yang ia impikan. Tapi untuk sekarang… ini satu-satunya jalan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.