cerita liar istri ketika mudik

Chapter 1: Tangga Ke Banyumas

Mesin gemetar dengan suara gemerlang di tengah malam Natal yang sepi, kilat sinar mengikuti setiap gigitan di bawah kapot mobil sedan warna merah tua yang mereka pegangi. Herman memegang ro steering wheel dengan erat, matanya menyesuaikan dengan peta suhu yang menaiki zona merah, sementara di kursi belakang, Lia mengepal tangan Kecil Yuni yang kini menangis pelan, bibirnya gemetar dari kesaksian tiba-tiba berhenti. Mama mengapa kita berhenti? tanya Yuni dengan suara gemetar, tangannya menggenggam baju Lia. Lia menenangkan cucu itu sambil menghela napas dalam, wajahnya pucat namun tetap berusaha tersenyum. Hanya istirahat singkat sayang mobil butuh waktu untuk mengecat napas. Mereka baru saja berangkat dari Jakarta sore tadi rencana adalah tiba di kampung Banyumas untuk merayakan Natal bersama keluarga Herman tetapi nasib seolah berkeinginan lain. Sebentar setelah matahari tenggelam total muncul gelembung uap dari lokasi radiator kebocoran yang serius dan memaksa mereka berhenti di pinggir jalan yang hanya dilengkapi lampu jalan sesaat.

Herman mati mesin dan langsung turun dari mobil, kaki botaknya menggenang di padatan aspal yang dingin. Dia membuka tutup Hood dengan cepat, melihat uap uap panas naik perlahan dari mesin yang masihHangat. Ia segera mengambil spray air dari tas darurat, mengecek tinjauan cepak, dan mengakui bahwa radiator memang bocor. Sementara itu, Lia membuka pintu samping dan mengangkat Yuni dari kursi anak, Lia mengangkat Yuni ke tangannya, sambil berjalan ke area yang lebih gelap di sekeliling. Yuni masih menangis pelan, mata mengigit cahaya lampu jalan yang berkedip. Herman mendekati keluarga itu sambil memegang sekop yang dahi, mengakui kerusakan serius dan mengarang rencana B. Ia menarik telepon darurat, namun sinyal di lokasi ini sangat lemah hanya sebatas getaran getaran saja. Herman mengaku akan menelepon bengkel terdekat. Namun sebelum dia sempat melanjutkan, sebuah mobil tua menghentikan jarak beberapa meter depannya. Dari dalam turun pria tua rambut putih yang sudah berpengalaman mengajak mereka untuk ikut ke rumahnya yang hanya beberapa menit dari sini.

Pak Harto mengajak keluarga itu naik ke mobilnya yang tua namun masih layak digunakan, dan dalam waktu sepuluh menit mereka tiba di rumah sederhana yang terletak di pinggir jalan. Ibu Pak Harto, wanita rambut putih yang juga kekayauan ramah, menyambut mereka dengan secangkir teh jahe hangat dan sekotak klepon masih hangat yang baru saja keluar dari dapur. Yuni mata lebar pertama kalinya melihat kue warna-warni ini, segera lupa dari frustrasi mobil yang rusak sambil mencicipi cokelat kecil yang diberikan Ibu Pak Harto. Sambil minum teh, Pak Harto bercerita bahwa depuluhan tahun lalu ia sudah pernah membantu memperbaiki mobil ayah Herman ketika mereka terjebak di jalan yang sama pada musim semi. Cerita itu membuat Herman merasa sedikit lebih tenang, mengingat masalah ini bukan hal tak teratasi. Lia mendengarkan sambil mengelap lidah Yuni yang sudah mulai merasa lelap dan mulai tertidur di pelukan ibunya.

Malam berlalu pelan, langit di atas Banyumas tampak berikian bintang-bintang yang terang-langit, jauh dari pencahayaan kota yang menyiksa. Di halaman rumah Pak Harto, suasana terasa tenang dan menenangkan, berbeda dengan kesibukan Natal di rumah mereka di Jakarta. Herman dan Lia duduk berdampingan di keranda depan, sambil menatap ke atas langit yang tak berujung. Herman mengamati bahwa Lia selalu menjadi pilar kuatnya, tangannya terus menggenggam tangannya. Ia menginginkan bisa menawarkan hal yang lebih baik dari kerusakan mendadak ini. Lia mendesis mata menunjukkan sedikit keletihan. Pesan darurat dari bank muncul di layar ponsel butuh jawaban cepat meski sudah libur. Lia menoleh ke arah Yuni yang sedang tidur nyenyak di sofa sebelah lalu mengangkat panggilan di koridor gelap suaranya sepi di belakang pintu tutup. Herman mendekati menaruh tangannya di bahu Lia tanpa sebuah kata pun ia hanya menghela napas dan mengamati betapa takdir mereka sudah cukup kuat untuk menghadapi momen ini. Kedua orang menatap langit yang penuh bintang mendengar suara katik katik dari luar merasa bahwa meski bengkel menghalangi rute malam ini mereka telah menemukan kehangatan yang tak terduga di tengah jalan.

Pagi tiba dengan keharapan pertama sinar matahari menyindohi rumah Pak Harto. Ibu Herman membuka pintu dengan senyuman lebar menyambut Lia dan Yuni yang masih berkebaya dari malam tadi dengan tumpangan kue hangat dan tahu goreng renyah. Yuni segera bangun dengan giggling langsung menjajal mainan kayu bentuk mobil tangan yang diberikan Pak Harto sebagai penghormatan. Di halaman Herman dan Lia membantu Pak Harto dan Ibu Sari mempersiapkan sarapan sederhana sambil bertukar cerita tentang masa lalu di kampung. Ketika akan berangkat kembali ke Jakarta Pak Harto memberikan kunci cadangan mobil yang telah diperbaiki sebagian sekalipun masih butuh perawatan spesial di bengkel resmi setelah Natal. Di jalan kembali meski masih ada tanda-tanda perbaikan di mobil suasana berbeda. Yuni tertawa mengamati pemandangan lewat Lia menyanyikan lagu natal pelan di belakang dan Herman mendengarkan dengan hati yang lebih ringan. Keseluruhan perjalanan yang awalnya ditandai kerusakan kini terasa seperti bagian dari perjalanan yang penuh anugerah, sebuah heran yang mengajarkan them bahwa sometimes the detours lead to the most precious moments. Di rumah keluarga Herman di Banyumas Ibu Herman menerima mereka dengan pelukan besar dan ketika Yuni dengan gembira memainkan mainan kayu dari Pak Herman mendengar pesan dari rekan kerja Lia semua baik klien mengerti setelah dijelaskan situasi liburan. Herman menatap Lia tertawa dan menyadari bahwa meski bengkel menghalangi rute malam ini mereka telah menemukan kehangatan yang tak terduga di tengah jalan dan sebuah ketegangan baru sepertinya sudah memulih mengantikan ketakutan tadi malam.

Sponsor
Banner sponsor muncul setelah chapter selesai dibaca agar ritme membaca tetap utuh.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

king cube

‎Intronya: sebuah planet berbentuk rubik yang terdiri dari 6 daerah kerajaan 5 kerajaan dan 1 pusat kerajaan dan merupak...

Baca

Dungeon Itu Memilihku

Tidak semua portal bisa ditutup. Beberapa justru memilih tuannya. Aldi, seorang pengantar barang, menjadi “pemilik” dung...

Baca

Tidak sengaja bertemu dia

Diah tidak pernah menyangka, satu pertemuan kecil dengan Aril akan membuka cerita cinta yang perlahan tumbuh di antara m...

Baca

Terjebak oleh jearatan Iblis

Pagi tiba dengan damai. Maya berdiri di bawah sinar matahari, merasakan kehangatan yang sesungguhnya

Baca

Surat untuk Hari Terakhir

Nara menulis surat setiap hari untuk dirinya di masa depan, tanpa pernah menjelaskan alasannya pada siapa pun. Reno meng...

Baca

Playlist untuk Kamu

Setiap pagi di bus sekolah, Aira selalu melihat seorang cowok duduk di kursi belakang, mengenakan headset besar, menatap...

Baca

Penantang Takdir

Saat gerbang antar dimensi terbuka di bumi, selurung dimensi terhubung. Sistem antar bintang yang memiliki konsel level...

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca