CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta
Chapter 3: Pertemuan Kedua di Perpustakaan
Matahari sore menyemburatkan cahaya keemasan melalui jendela-jendela kaca perpustakaan kecil di pinggir kota. Arka melangkah masuk, matanya memindai rak-rak buku yang tertata rapi. Aroma kertas tua dan debu menyambutnya, mengingatkannya pada masa kecil saat ia masih suka membaca.
"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" suara lembut menyapa dari balik meja pendaftaran.
Jantung Arka berhenti sejenak. Ia mengenal suara itu. Dengan langkah perlahan, ia mendekati meja dan menemukan Alina tengah tersenyum padanya, meski matanya tertutup kain putih.
"Ehm, iya... saya mencari buku tentang..." Arka terdiam, otaknya mendadak kosong. "Sebenarnya saya hanya ingin melihat-lihat."
"Kalau begitu, silakan berkeliling. Ada koleksi baru di rak sebelah sana," Alina menunjuk arah dengan tangannya.
Arka mengangguk dan berjalan menuju rak yang ditunjuk. Tapi bukannya memperhatikan buku, matanya justru tertuju pada Alina yang sibuk menata beberapa berkas. Ia melihat cara gadis itu bergerak dengan begitu anggun, seolah-olah ia bisa melihat jalan di depannya.
"Kamu bekerja di sini?" tanya Arka, kembali ke meja Alina.
"Ya, sejak setahun lalu. Perpustakaan ini menyediakan buku-buku braille untuk teman-teman difabel. Saya membantu mengelola koleksinya," Alina menjawab dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Buku braille?" Arka mengernyit. "Bagaimana caranya membaca?"
"Seperti ini," Alina mengambil sebuah buku tebal dari bawah meja dan meletakkannya di hadapan Arka. "Teksturnya timbul, jadi bisa diraba dengan jari-jari."
Arka mencoba menyentuh halaman buku itu. Benar saja, ada pola titik-titik yang tersusun rapi. Ia menggeleng heran.
"Dan kamu bisa membaca semuanya?"
"Tentu saja. Membaca adalah jendela dunia, bukan?" Alina tertawa kecil. "Kebutaan bukan penghalang untuk terus belajar dan berkarya."
Arka terdiam. Selama ini ia mengira hidup dalam kegelapan akan membuat seseorang murung dan putus asa. Tapi Alina justru tampak lebih hidup dan ceria dibanding orang-orang yang bisa melihat di sekelilingnya.
"Kamu tidak pernah merasa sedih karena tidak bisa melihat?" tanya Arka penasaran.
"Sedih? Mungkin dulu. Tapi sekarang saya lebih memilih bersyukur atas apa yang masih bisa saya lakukan," Alina mengangkat bahu. "Selain itu, saya punya keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung. Itu yang terpenting, bukan?"
Arka menatap gadis di hadapannya dengan pandangan baru. Ada sesuatu dalam diri Alina yang membuatnya tertarik, meski ia sendiri tidak tahu apa itu.
"Kamu... benar-benar unik," ucap Arka akhirnya.
"Terima kasih. Saya terima sebagai pujian," Alina tersenyum lebar. "Biasanya orang lain menganggap saya aneh karena selalu ceria meski buta."
"Memangnya kenapa harus sedih terus? Hidup kan cuma sekali," Arka mengangkat bahu, menirukan logika Alina.
"Betul sekali! Kamu pintar," Alina tertawa. "Oh ya, kamu belum bilang namamu. Saya Alina, kalau tadi belum sempat berkenalan."
"Arka," ucapnya singkat.
"Arkana? Wah, nama yang bagus. Seperti tokoh pewayangan," Alina mengangguk-angguk.
Arka tersenyum tipis. Ia tidak menyangka akan menemukan seseorang yang begitu terbuka dan ceria di tempat yang tidak terduga. Ada sesuatu dalam diri Alina yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
"Arka, kamu mau kembali lagi ke sini besok?" tanya Alina tiba-tiba.
"Eh, buat apa?"
"Kan kamu bilang mau melihat-lihat. Saya bisa bantu carikan buku yang cocok untukmu," Alina mengedipkan mata di balik kain penutupnya.
Arka terdiam sejenak, lalu mengangguk.
"Baiklah. Saya akan kembali besok."
"Bagus! Saya tunggu," Alina tersenyum sumringah.
Saat Arka melangkah keluar dari perpustakaan, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada semacam getaran di dadanya, seperti ada yang berdesir dan ingin tahu lebih banyak tentang gadis buta yang selalu tersenyum itu. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Malam itu, Arka tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang pada Alina, pada senyumnya, pada cara ia menjalani hidup dengan begitu positif. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya penasaran, yang membuatnya ingin tahu lebih dalam.
"Dasar aneh," gumam Arka pada diri sendiri. "Kenapa aku jadi kepikiran terus?"
Tapi di sudut hatinya, ia tahu jawabannya. Ada sesuatu dalam Alina yang membuatnya ingin mengenal lebih jauh, ingin melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Dan mungkin, itu adalah awal dari sesuatu yang baru dalam hidupnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.