Sehabis Mencintai, Aku Belajar Melepaskan
Chapter 2: Lembaran-Lembaran yang Terbuka
Jam tiga lewat sepuluh menit, bel toko buku tua itu berdering riang ketika Rania mendorong pintu kaca yang berdebu. Matanya langsung mencari kerumunan rak-rak kayu yang nyaris menyentuh langit-langit, menyembunyikan Ade di suatu tempat antara tumpukan ensiklopedia tahun 70-an dan koleksi puisi Melayu klasik.
Aroma kertas lapuk dan kulit binding tua menyergap hidungnya. Dari balik tirai manik-manik yang menggantung di pintu belakang, muncul sosok Adi dengan kaos abu-abu lusuh yang menggantung longgar di tubuhnya. "Kamu benar-benar datang," ucapnya sambil menyeka tangan di celana jeans yang sudah pudar dengan lap microfiber.
Rania memperhatikan bagaimana jari-jarinya yang panjang dan berbuku-buku itu dengan ahli membalik halaman buku tua, ujung kelingkingnya selalu agak terangkat seperti seorang pianis yang sedang memainkan sonata. "Ini," bisiknya tiba-tiba, menarik sebuah buku bersampul cokelat dari rak tertinggi. "E.E Cummings - karyanya lebih baik dibaca dalam edisi lama seperti ini."
Mereka duduk di lantai kayu yang berderit, punggung bersandar pada rak buku sejarah seni. Adi perlahan membuka halaman demi halaman, terkadang berhenti untuk menunjukkan margin tempat pemilik sebelumnya mencoret catatan kecil dengan tinta biru yang sudah memudar. "Lihat, di sini orang ini menulis 'spring is like a perhaps hand' dengan huruf-huruf mungil," ujarnya, suaranya lebih hidup dari biasanya.
Sinar senja menyusup melalui jendela atas yang kotor, menerangi partikel debu yang berputar-putar di sekitar mereka. Rania menyadari bahu mereka sekarang benar-benar bersentuhan, panas dari kulit Adi menembus kain tipis bajunya. "Aku... dulu sering ke sini bersama ayah," kata Adi tiba-tiba, jempolnya menggosok-gosok pinggiran halaman buku yang sudah rapuh. "Dia yang mengajariku mencintai buku-buku tua." Suaranya pecah di akhir kalimat.
Di sudut toko yang remang-remang, di antara tumpukan kertas dan kenangan, Adi bercerita tentang ayahnya yang meninggal karena kanker paru ketika dia masih SMA. Tentang bagaimana bau tembakau di buku-buku tua itu mengingatkannya pada aroma pipa ayahnya. Tentang piano tua di rumah sakit tempat dia memainkan lagu-lagu Chopin untuk menemani ayahnya di hari-hari terakhir.
Rania mendengarkan dengan lutut yang ditekuk ke dada, kadang-kadang menjawab dengan sentuhan lembut di lengan Adi ketika suaranya mulai bergetar. Dia mempelajari detail baru tentang Adi - cara alisnya berkerut ketika mengingat sesuatu yang menyakitkan, bagaimana dia menggigit bibir bawahnya ketika berusaha menahan emosi.
Ketika langit di luar mulai berwarna ungu tua, Adi tiba-tahu mengeluarkan walkman tua dari tas kanvasnya. "Ini..." dia bersikeras memberikan Rania satu sisi earphone, tangannya sedikit gemetar. "Debussy's Claire de Lune, versi rekaman tahun 1954. Ayah selalu memainkannya untukku sebelum tidur."
Di dalam ruang sempit antara dua tubuh yang duduk berdampingan itu, alunan piano mengalir menyatukan detak jantung mereka yang mulai sinkron. Rania menoleh dan menemukan Adi sudah menatapnya - matanya yang biasanya menunduk sekarang terlihat jernih dan terbuka, memantulkan cahaya senja seperti kepingan amber yang hangat.
Pemilik toko mulai menyalakan lampu-lampu neon tua ketika mereka keluar. Adi tiba-tahu meraih tangan Rania, jari-jarinya yang panjang dengan lembut menyelipkan selembar kertas ke telapak tangannya. "Ini... daftar buku-buku yang ingin kubaca di semester ini," bisiknya, telinganya memerah. "Kalau kamu mau... mungkin kita bisa..." Napasnya tergesa ketika Rania tanpa berpikir mengunci jari-jarinya dengan milik Adi.
Di bawah lampu jalan yang mulai menyala, bayangan mereka menyatu di trotoar. Bau buku tua dan sedikit aroma kayu manis dari lotion tangan Adi bercampur dengan udara malam yang sejuk. Di saku jaket Rania, daftar buku itu terlipat rapi bersanding dengan secarik kertas tambahan yang tulisannya rapi namun gemetar: 'Claire de Lune lebih indah ketika didengarkan bersamamu'.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.