Satu Jalan, Dua Arah
Chapter 1: Jenuhnya Rutinitas
Lail duduk di meja kerjanya dengan tatapan kosong ke arah layar komputer. Terangnya lampu neon di ruangan kantor menggambarkan hiruk-pikuk kehidupan kota Jakarta yang tak pernah berhenti. Namun, di tengah kebisingan itu, hatinya justru merasa sunyi. Rutinitas itu—bangun pagi, berangkat kerja, hadapi rapat tanpa akhir, pulang larut, dan mengulang semuanya keesokan harinya—mulai membuatnya merasa terjebak.
Matanya menatap jam dinding. Pukul 15.00. Masih ada tiga jam lagi sebelum dia bisa meninggalkan kantor ini. Tapi, apa bedanya? Pulang ke apartemen kecilnya hanya akan membawanya pada kesendirian yang sama. Jakarta, kota yang penuh dengan orang, tapi entah mengapa, Lail merasa semakin terasing.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Pikirannya melayang ke masa lalu, saat dia masih penuh semangat memulai karier ini. Dulu, dia percaya bahwa bekerja di perusahaan besar akan membawanya pada kebahagiaan. Tapi sekarang, semua itu terasa seperti ilusi. Apakah ini yang dia inginkan? Hidup yang dihabiskan di balik meja kantor, mengejar target yang tak pernah ada habisnya?
Lail menutup matanya sejenak, mencoba mengusir pikiran-pikiran itu. Tapi, semakin dia mencoba melupakan, semakin kuat perasaan itu menghantuinya. Dia merasa terjebak dalam lingkaran yang tak bisa dia putuskan. Apakah ada jalan keluar? Ataukah ini takdir yang harus dia jalani?
Dia membuka matanya kembali, menatap layar komputer yang masih menampilkan dokumen kerja yang belum selesai. Tapi, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Di sudut hatinya, muncul pertanyaan kecil yang mulai menggelitik: 'Apa yang sebenarnya aku inginkan?'
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.