Monster Remedial Academy: Sekolah Sihir untuk Makhluk Gaib yang Payah
Chapter 5: Bab 5: Kamar Asrama dan Rahasia Akademi
Rian dan Gizmo akhirnya tiba di kamar asrama mereka setelah melalui serangkaian koridor yang semakin aneh. Kamar itu terlihat biasa saja dari luar, tapi begitu Rian membuka pintu, ia langsung terkejut. Ruangan itu jauh lebih luas dari yang terlihat, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi oleh lukisan-lukisan bergerak. Ada dua tempat tidur mengapung di udara, dan meja belajar yang bisa berbicara sendiri. “Selamat datang di kamar 404,” kata meja itu dengan suara ramah. Rian mengerutkan kening, “Kamar 404? Kok kayak kesalahan sistem gitu.” Gizmo tertawa, “Di sini, segalanya mungkin, Rian.”
Tak lama setelah mereka beradaptasi dengan kamar asrama, teman sekamar mereka tiba. Dia adalah seorang makhluk berbentuk seperti kentang dengan mata besar dan mulut lebar yang terus tersenyum. “Halo, aku Tato!” katanya dengan antusias. Rian tidak yakin harus merespons apa, tapi Gizmo langsung berbaikan, “Hai, Tato! Aku Gizmo, dan ini Rian.” Tato melompat-lompat gembira, “Senang bertemu kalian! Kalian pasti belum pernah ke perpustakaan, kan? Aku bisa tunjukkan!” Rian menggumam dalam hati, “Perpustakaan? Baiklah, sepertinya ini akan menarik.”
Sebelum mereka sempat berdiskusi lebih lanjut, suara gaduh dari luar kamar menarik perhatian mereka. Seorang bocah dengan rambut biru terang dan telinga runcing muncul, membawa sebuah bola kristal yang berkilauan. “Hei, kalian baru? Aku Reno! Boleh gabung?” tanpa menunggu jawaban, Reno langsung masuk dan duduk di salah satu tempat tidur mengapung. Rian merasa sedikit kewalahan, tapi Gizmo tampak menikmati keramahan ini. Mereka pun mulai berbincang tentang asal-usul akademi. Tato bercerita bahwa akademi ini dibangun oleh seorang penyihir legendaris yang menghilang ratusan tahun lalu, meninggalkan banyak rahasia yang belum terpecahkan. Reno menyambung, “Konon, ada buku sihir kuno yang bisa mengungkap semua rahasia itu. Tapi belum ada yang berhasil menemukannya.”
Mata Gizmo langsung berbinar, “Kita harus mencarinya!” Rian menghela napas, “Sepertinya kita tidak punya pilihan lain.” Mereka pun memutuskan untuk pergi ke perpustakaan malam itu juga, meski Rian masih merasa was-was. Sesampainya di perpustakaan, ruangan itu tampak lebih besar dan gelap dari yang mereka bayangkan. Rak-rak buku raksasa menjulang tinggi, dan aroma kertas tua memenuhi udara. Tato memimpin mereka ke bagian belakang perpustakaan, di mana ada sebuah pintu kecil yang hampir tak terlihat. “Di sini,” bisiknya. Reno mendorong pintu itu, dan mereka tiba di sebuah ruangan bawah tanah yang penuh dengan buku-buku kuno berdebu.
Di tengah ruangan, sebuah buku besar dengan sampul kulit hitam tergeletak di atas meja batu. Buku itu berdenyut dengan energi misterius. Rian mendekat perlahan, dan ketika ia menyentuh sampulnya, cahaya keemasan tiba-tiba menyala, memenuhi ruangan. Gizmo berseru, “Ini dia! Buku sihir kuno yang kita cari!” Tapi sebelum mereka sempat membuka buku itu, suara gemerisik membuat mereka menoleh. Seekor burung hantu besar dengan mata merah menyala muncul dari kegelapan, mengawasi mereka dengan tatapan tajam. “Kalian tidak seharusnya berada di sini,” kata burung itu dengan suara seram.
Rian merasa jantungnya berdegup kencang, tapi Gizmo tetap tenang. “Kami hanya ingin tahu tentang rahasia akademi,” katanya sambil memegangi buku itu erat. Burung hantu itu mengangguk pelan, “Maka bersiaplah, karena rahasia ini akan mengubah segalanya.” Cahaya dari buku itu semakin terang, dan tiba-tiba, Rian merasakan energi aneh mengalir di sekujur tubuhnya. Bab ini berakhir dengan harapan besar untuk menguak lebih banyak rahasia akademi, meski Rian sadar bahwa petualangan mereka baru saja dimulai.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.