Lolongan Terakhir di Hutan Kelam
Chapter 5: Jejak yang Menghilang dalam Kegelapan
Malam itu bulan purnama tergantung seperti mata raksasa yang mengintip dari balik selimut kabut. Dua belas lelaki bersenjatakan golok dan obor berkumpul di depan balai desa, bayangan mereka menari-nari di dinding bambu seperti siluet makhluk asing. Bau kemenyan yang dibakar Mbah Suroto menyengat di udara, namun tak mampu menutupi aroma anyir yang tiba-tiba muncul dari arah hutan.
'Kita bagi tiga kelompok,' bentak Pak Dul sambil memutar-mutar pisau jagalnya yang sudah berkarat. Cahaya obor memantulkan tato jawa kuno di lengannya yang bergerak-gerak sendiri seperti hidup. 'Siapapun yang melihat sesuatu, langsung teriak. Jangan ditahan—'
Kalimatnya terpotong oleh suara gemeresik aneh di semak belukar. Dedauan yang seharusnya kering di musim kemarau ini tiba-tiba berdesis seperti ada ribuan kaki serangga bergerak di bawahnya. Joko, remaja keluarga Karto yang dipaksa ikut patroli, menggigil hebat sampai gagang goloknya bergetar.
Kelompok pertama mulai menyusuri jalan setapak ke barat, menyinari setiap sudut gelap dengan obor. Suasana semakin mencekam ketika mereka menemukan jejak-jejak baru—bukan lagi berbentuk cakar, tapi jejak kaki manusia yang telapaknya terbalik, dengan jari-jari mengarah ke belakang. Jejak itu berakhir tiba-tiba di depan pohon beringin tua, di mana sebuah boneka kain kotor tergantung dengan benang-benang usus hewan.
'Itu... itu baju anakku!' teriak Pak Didit tiba-tiba, tangannya gemetar menunjuk sobekan kain merah di mulut boneka. Tak ada yang berani menyentuhnya. Dari dalam batang pohon beringin yang berlubang, keluarlah suara bisikan berirama dalam bahasa sunda kuno yang tak dipahami siapapun.
Sementara itu, kelompok kedua yang dipimpin Pak Rudi menemukan keanehan di tepi sungai. Air yang biasanya jernih kini hitam pekat dan mengeluarkan gelembung-gelembung gas berbau amis. Ketika obor didekatkan, sesuatu yang besar bergerak di bawah permukaan—bentuknya memanjang seperti ular raksasa, tapi dengan tonjolan-tonjolan tulang yang mencuat di sepanjang 'punggung'-nya. Mereka mundur panik ketika sebuah benda terapung muncul ke permukaan: kepala kambing yang matanya masih berkedip-kedip.
Kelompok ketiga menjadi saksi dari teror paling mengerikan. Saat melewati ladang jagung, obor-obor tiba-tiba padam bersamaan. Dalam kegelapan, suara nafas berat bergema dari segala arah. Ketika cahaya kembali, agaknya karena sumbu obor yang tiba-tiba menyala sendiri dengan api biru, mereka menyadari bahwa Wawan—salah satu anggota patroli—telah menghilang.
'Wawan! Di mana Wawan?!' teriak Pak Jaya memecah kesunyian malam. Pencarian dimulai dengan panik, sampai mereka menemukan sesuatu yang membuat darah membeku: di tanah bekas pijakan Wawan, ada genangan lumpur hitam yang masih bergelembung, dengan bekas tangan—bukan tangan manusia—yang tercetak jelas di tepinya. Jari-jarinya terlalu panjang, dengan kuku melengkung seperti sabit.
Dari kejauhan, suara genderang perang kuno tiba-tiba bergema lagi, kali ini lebih keras dan lebih dekat. Diikuti oleh lolongan yang membuat bulu kuduk berdiri—suara itu bukan berasal dari serigala atau anjing, tapi sesuatu yang memiliki pita suara manusia namun diisi oleh kebencian purba.
Mereka lari pontang-panting kembali ke desa. Namun di tengah jalan, Joko—yang berada di barisan belakang—berbalik karena mendengar suara langkah di belakangnya. Apa yang dilihatnya membuatnya menjerit histeris: siluet tinggi dengan kepala bertanduk sedang berdiri di persimpangan jalan, di tangannya yang terlalu panjang terlihat sesuatu yang bergoyang-goyang—sepotong kaos merah yang dikenakan Wawan.
Ketika semua kelompok kembali ke balai desa, hitungan menunjukkan tiga orang hilang selain Wawan. Tak ada yang berani tidur malam itu. Dari dalam hutan, sesekali terdengar suara yang membuat semua ibu memeluk anak-anak mereka lebih erat: suara tulang-tulang yang dipatahkan satu persatu, diikuti oleh tawa bergema yang seakan berasal dari bawah tanah.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.