Hunter Kalah, Sistem Bangkit: Akulah Harapan Terakhir
Chapter 1: Kota Tanpa Matahari
Pagi pertama di Jakarta pasca-invasi datang dengan langit yang berubah. Tidak ada matahari yang menyinari kota yang pernah menjadi pusat bisnis terbesar di Asia. Di tempat-tempat yang dulu penuh dengan ladang-ladang pekerja, sekarang hanya tersisa reruntuhan berlumpur dan bayangan yang membesar. Danu menatap ke luar dari apartemen mungilnya yang sudah lama tidak dibersihkan. Dia memandang ke jalan yang sepi, seolah kota ini sudah terlelap dalam mimpi buruk yang tak bisa terbangun.
Di usia 28 tahun, dan dengan kantong yang kosong selama bertahun-tahun, Danu masih bertahan di tengah chaos ini. Ia bukan hanya menganggur, tapi juga menyandang label yang tak bisa dihilangkan: 'orang tak peduli'. Tapi ia tak punya pilihan. Ia bekerja serabutan—menyapu jalanan yang tidak pernah dibersihkan, mengangkut sampah dari tempat yang sudah lama tidak dilihat, atau bahkan menjual barang-barang bekas yang dulu berharga.
Kota ini tidak lagi mengenal uang. Mereka menggunakan sistem berbeda. Karena itu, Danu sering mengucapkan dalam hati, 'Aku masih bisa bertahan.' Tapi kadang, ia bertanya, apakah ia benar-benar merasa menjalani hidup, atau hanya menghindar dari kematian yang pasti?
Keluar dari apartemen yang kusam, ia melangkah perlahan ke jalan. Di depannya, seorang anak kecil bermain dengan karet gelang yang patah, sambil tertawa seolah tidak peduli dengan dunia di sekitarnya. Danu menghela napas. Ia tahu, bukan hanya anak itu yang bertahan, tapi dirinya juga. Dan mungkin, itu adalah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk tidak terlupakan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.