Her Eyes on Me
Chapter 5: Kenang-kenangan Tak Terduga
Kantung plastik cokelat itu mengetuk meja kerjaku tepat pukul lima sore. Partner penelitianku menyeringai sambil menggoyang-goyangkan benda di dalamnya. ‘Dari Tyler—katanya ini kenang-kenangan,’ ujarnya dengan nada menggoda. Tanganku gemetar membuka simpul plastik yang diikat terlalu kencang.
Gantungan kunci perak berbentuk miniatur lift hotel terguling ke telapak tangan. Detak jantungku berhenti sesaat. Ini replika persis lift tempat kami pertama kali bertabrakan—pintu gesernya bahkan bisa dibuka tutup. Bau kayu oak yang khas menempel pada logam itu, menyergap inderaku seperti saat Tyler berdiri terlalu dekat di koridor waktu itu.
‘Dia bilang, jangan lupa untuk…’ Partnerku mengetuk-ngetuk jidatnya berpura-pura lupa, ‘Apa ya? Ah iya—selalu naik ke lantai yang tepat.’ Suaranya melengking meniru gaya Tyler. Aku menelan ludah keras-keras, jari menggenggam miniatur lift sampai ujung logamnya membekas di kulit.
Ponsel di saku jaket bergetar tiba-tiba:
‘Check bagian dalam.’
Nomor tak tersimpan. Tapi aku langsung tahu siapa pengirimnya. Dengan gemetar, kubuka pintu miniatur lift itu. Secarik kertas gulungan terpampang di dalamnya: sketsa tangan wanita tersipu malu dengan rambut dikonde—gambarku saat presentasi di hari pertama seminar.
Matahari sore menyorot dari jendela kantor saat Pak Arif tiba-tiba muncul di pintu. ‘Masih di sini?’ tanyanya sambil mengamati gantungan kunci di tanganku. Kucepat menyembunyikan benda itu di balik tumpukan laporan. ‘Hanya urusan kecil.’ Pak Arif mengerutkan kening, lalu melemparkan amplop coklat ke meja. ‘Tyler menyuruhku menyampaikan ini juga—katanya materi kolaborasi.’
Udara ruangan tiba-tiba terasa panas. Kulit wajahku memerah saat mengambil amplop yang masih harum aroma aftershave-nya. Amplop itu kosong kecuali tulisan tangan di sudutnya:
‘Pintu lift selalu terbuka untukmu.’
Partnerku membuyarkan konsentrasi dengan bersiul lagu cinta sambil pergi meninggalkan ruangan. Di keheningan kantor, jempolku tanpa sadar mengelus ukiran miniatur lift—persis di tempat jari Tyler dulu menyenggol kulitku saat menyerahkan dokumen yang tumpah. Angin senja membelai rambutku melalui jendela terbuka, membawa bayangan tubuhnya yang pernah berdiri terlalu dekat di koridor waktu itu.
Ketika jam dinding berbunyi tanda jam kerja berakhir, ponselku bergetar sekali lagi:
‘Kau sudah buka amplopnya?’
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.