Her Eyes on Me
Chapter 4: Penolakan Samar
Kertas laporan seminar berkerut di genggamanku ketika Pak Arif menyergap di depan lift. ‘Dia meminta nomor kontakmu.’ Napasku tercekat saat mentornya melipat lengan, wajahnya berkerut seperti menahan rasa tidak suka. ‘Cowok denim tadi—Tyler, katanya ingin konsultasi proyek lanjutan.’
Jarum jam di lobi berdetak terlalu keras. Kulihat bayangan Tyler dari kejauhan, tubuhnya bersandar di dinding dekat taman dalam sambil memainkan ponsel. ‘Bilang saja aku sedang sibuk,’ jawabku sambil menekan tombol lift berulang kali. Tombol itu terasa panas di ujung jari.
Pak Arif menghela napas. ‘Kalau kau memang tak nyaman, akan kusuruh dia menghilang.’ Sorot matanya tajam mengamati reaksiku. Lift terbuka, tapi aku malah menoleh ke jendela—Tyler kini menatap langsung ke arah kami, senyum kecut di bibirnya. Sesaat sebelum pintu lift menutup, tangannya menyentuh saku jaket denim seperti isyarat rahasia.
Di lantai empat, paket dokumen seminar tumpah berantakan ketika aku terburu-buru keluar lift. ‘Hey!’ suara itu membuat seluruh tulang punggungku kaku. Tyler berdiri di ujung koridor, jari menggantungkan ID card di tali kulitnya. ‘Butuh bantuan?’
Aku membungkuk cepat mengumpulkan kertas tanpa menjawab. Bau kayu oaknya menyergap lagi—dia sekarang berlutut di sampingku. ‘Kau sadar Partner kerjamu tadi sedang menyobek formulir kontakku di tempat sampah?’ Tangannya menyodorkan dua lembar kertas terakhir, sengaja menjepit ujung jarinya di telapak tanganku.
‘Kalau mau kolaborasi, bisa lewat email resmi,’ kataku sambil berdiri, berusaha menjaga suara tetap datar. Tapi Tyler menyeringai lebar, berdiri perlahan sampai tubuhnya terlalu dekat. ‘Aku tidak tertarik dengan email.’ Desisnya rendah, hanya cukup untuk menggigilkan cuping telinga.
Langit senja memerah dari jendela koridor ketika Pak Arif tiba-tiba muncul dari balik pintu darurat. ‘Mau terlambat rapat?’ katanya dengan nada tinggi. Tyler mengangkat kedua tangan pertanda menyerah, tapi matanya menatapku tajam. ‘Sampai jumpa,’ bisiknya sebelum menyusul Pak Arif yang sudah membelakangi kami.
Tiga jam kemudian, sambil mencoba fokus di sesi diskusi kelompok, tiba-tiba secarik kertas masuk ke bawah laptopku. Tulisan tangan Tyler: ‘Aku bisa menjadi lebih sopan dari Partner-mu.’ Dadaku berdebar melihatnya membungkuk di pintu ruangan, jari menempel di bibir seolah menyegel rahasia. Kuminum air putih dingin untuk menenangkan diri yang bergejolak.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.