Boneka Penukar Jiwa
Chapter 4: Bermimpi dikejar Bayangan Tanpa Wajah
Dia tertidur. Tidak sengaja, ia jatuh ke dalam mimpi yang terasa begitu nyata. Ruangan yang sebelumnya gelap dan hening menjadi satu kekosongan yang tiada henti menggerogoti rasa aman yang pernah ia miliki. Pada awalnya, ia hanya mendengar suara angin menyelinap lewat celah jendela. Suara yang sama seperti di loteng, tapi kini mengalir dalam mimpi ini dengan cara yang tak biasa. Semakin lama, suara itu menjadi lebih jelas, lebih menggema, hingga akhirnya menyerupai bisikan yang mengalir dari balik bayangan.
Suara itu berkata: 'Lari.'
Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa terikat. Ia melihat ke sekeliling, tak ada sumber cahaya. Hanya kegelapan yang menguasai ruangan. Tiba-tiba, ia melihatnya—bayangan besar yang berjalan di belakangnya. Tidak ada wajah, hanya gelap yang menyergap. Bayangan itu menggerakkan dirinya dengan perlahan, mengikuti langkahnya tanpa berhenti. Ia mencoba berteriak, tapi suaranya menghilang dalam keheningan yang semakin dalam.
Suara angin kembali menggema, seolah mendorongnya. Ia menatap ke belakang, dan sesuatu terjadi. Bayangan itu menghentikan langkahnya, tersenyum. Senyum yang menakutkan, tanpa wajah—hanya gelap yang terlihat. Ia tak bisa bergerak, hanya bisa menatap ke dalam gelap itu. Tapi dalam hati, ia merasa bayangan itu mengenali dirinya, mengenali kepercayaannya pada boneka itu.
Tiba-tiba, ia terbangun. Keringat dingin mengalir di wajahnya. Ia berdiri di sudut kamar, tangan gemetar. Ia menatap ke gelap, dan dalam hati, ia tahu—mimpi itu bukan sekadar mimpi. Ia adalah pertanda dari sesuatu yang lebih besar, dan ia belum siap untuk menghadapinya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.