Surat untuk Hari Terakhir
Chapter 4: Garis Putih di Langit-Langit
Rabu pagi itu dimulai dengan denting sendok jatuh ke lantai keramik. Reno memandang lekat ke cangkir kopinya yang hanya terisi setengah. "Kau lupa lagi," bisiknya pelan sementara Nara berdiri kaku di depan mesin kopi, matanya kosong menatap tetesan cairan hitam yang menetes tanpa henti ke baki tampungan. Bau gosong menyengat ketika ampas kopi terbakar di sana selama lima belas menit tanpa disadari.
Pukul 10:43. Telepon berdering tiga kali sebelum Nara menyadari bunyinya. "Janji makan siang di Sushi Mami, kan?" tanya Reno lewat pesan suara yang terdengar datar. Tangannya gemetar membuka aplikasi kalender di ponsel yang kosong. Ada palang merah besar di tanggal hari ini, tapi tak ada catatan. Aroma ikan mentah menyengat padahal mereka masih terpisah lima blok gedung.
Di bawah meja kerja, Diana mengendus-endus kacang almond yang berserakan di tas. Kuku-kukunya yang runyam mencakar karpet saat Nara menepis kucing itu dengan kasar. "Kapan aku membeli ini?" gumamnya melihat plastik transparan berisi kacang panggang—makanan yang ia alergi sejak kecil. Goa hitam di memoranya melebar ketika mencoba mengingat transaksi di minimarket semalam.
Sore hari menemukan mereka berhadapan di depan kulkas terbuka. Reno menunjuk kaleng bir yang sudah mengembun. "Dua jam lalu kau berjanji akan membelikan stout favoritku.caliman" Nara menggaruk lengannya sampai merah, mendaras deretan teks di diary pink di laci dapur. Tidak ada satu pun coretan tentang bir atau janji. Namun bau hop pahit menempel di jaketnya seperti bukti yang dihapus langit.
Malam itu, ia bangun terisak di kamar mandi. Di telapak tangan kirinya tergores angka 03.17 dengan pulpen biru—tulisan tangannya sendiri yang tak diingat dibuat. Dari balik pintu, suara Reno mendengkur tak lagi terdengar akrab, melainkan seperti dentuman mesin waktu yang menghitung mundur sesuatu yang akan lenyap.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.