Surat untuk Hari Terakhir
Chapter 2: Pelukan Matahari di Antara Rintik Hujan
Matahari menyelinap di antara tirai kamar, menyapu wajah Nara dengan kehangatan sabar. Reno sudah berdiri di ambang pintu membawa nampan sarapan, aroma kopi tubruk dan pisang goreng menggoda indra penciuman. "Aku tambahkan kayu manis di kopimu," ujarnya sambil menyeringai, kerut di sudut matanya mengingatkannya pada cara ayahnya tersenyum dulu.
Jari-jari Reno menari di atas tuts piano tua di sudut ruang tamu sementara Nara memandangi dari sofa kesayangannya yang sudah penyok. Lagu "Moon River" mengalir bersama debu yang berterbangan diterpa kipas angin. Tiba-tiba jemarinya berhenti, "Kemarin kulihat buku puisi Sapardi di tasmu. Aku... memesan tiket untuk pertunjukan pembacaan puisinya minggu depan." Matanya berbinar seperti anak kecil yang memberi kelereng langka.
Di kafe tengah kota yang dindingnya dipenuhi lukisan artis jalanan, Reno menyuapkan sepotong tiramisu ke mulut Nara. "Kau selalu punya noda coklat di sini," bisiknya sambil menyeka sudut bibir Nara dengan jempol, lalu menjilatnya perlahan. Tatapannya yang teduh tiba-tiba terasa berat bagai timah panas. Nara tersedak sedotan matchanya ketika melihat jam tangan Reno menunjukkan pukul tiga—waktu dimana ibunya biasanya menelepon untuk mengkritik pilihan hidupnya.
Sore itu mereka berjalan di tepi danau kota yang airnya berwarna tembaga diterpa senja. Reno memungut kerikil datar dan melemparkannya membuat lima lompatan sempurna. "Lihat? Masih ingat taruhan kita dulu? Kalau aku bisa lebih dari tiga lompatan, kau harus nikah denganku." Tawanya menggema membuat sekawanan blekok terbang ketakutan. Nara memicingkan mata melihat siluet Reno yang tiba-tiba menyatu dengan bayangan pepohonan.
Pukul 21:47. Nara menatap langit-langit kamar yang retak membentuk pola rasi Lyra. Reno mendengkur pelan di sisinya, tangan kanannya masih tergeletak melingkari pinggang Nara seakan takut kehilangan. Di balik bantal, ujung buku diary hitam terlihat menyembul. Jari Nara mengetuk-ngetuk permukaan kasur mengikuti irama detak jantung Reno. Ada sesuatu yang menggumpal di dadanya—campuran pisang goreng pagi tadi dan semua janji manis yang teronggok seperti buku-buku yang tidak pernah tamat dibaca.
Ketika bulan purnama menyelinap di balik awan, Nara meraih pulpen emas pemberian Reno dari laci meja. Sehelai kertas surat berparfum lavender dicabiknya dari buku khusus. Kali ini tulisannya berbunyi: 'Apakah kebahagiaan harus selalu terasa seperti kostum yang kebesaran?' Tinta birunya menyebar membentuk noda kecil mirip danau mini sebelum surat itu dilipat rapi dan disumpal ke dalam stoples kaca di balik lemari, bersama puluhan surat serupa yang menganggur tanpa alamat.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.