Playlist untuk Kamu
Chapter 2: Melodi yang Membisikkan Rahasia
Laptop Aira memancarkan cahaya biru yang menyala-nyala dalam kegelapan kamar, jam di sudut layar menunjukkan pukul 2:47 dini hari. Jari-jarinya menari di atas keypad, menggulir laman musik tanpa tujuan tertentu - sebuah pelarian dari insomnia yang sudah menggerogotinya sejak tiga malam terakhir. Bau hangat teh chamomile yang sudah dingin menyengat hidungnya, dicampur aroma kaus kaki kotor yang terselip di bawah tempat tidur.
Tiba-tiba jempolnya berhenti di sebuah profil tanpa foto. Nama akunnya hanya berupa titik tiga suspensi, bio-nya kosong, tapi jumlah pengikut membuatnya mengerutkan kening - tepat 666 orang. Yang menarik perhatian adalah judul playlist-nya: 'Untuk yang Diam-diam Menatap dari Bangku Belakang'.
Saat kursor tergoda untuk mengklik, tiba-tiba saja bayangan cowok hoodie hitam muncul di benaknya. Aira menggigit bibir bawah sampai nyeri sebelum akhirnya menekan tombol putar. Speaker laptop yang jelek tiba-tiba mengeluarkan denting piano minor yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Lagu pertama berjudul 'The Art of Disappearing'. Iramanya seperti detak jantung yang tertekan, vokalis wanita bernyanyi dengan suara parau tentang menjadi hantu di keramaian. Aira teringat bagaimana cowok itu bisa duduk selama 30 menit perjalanan tanpa sekali pun mengubah posisi, seolah sedang mempraktikkan seni menghilang yang sempurna.
Ketika lagu ketiga 'Echolalia' mulai mengalun, Aira menutup mata. Suara gitar listrik yang melengking persis seperti perasaan aneh di dadanya setiap kali melihat bayangan cowok itu di kaca jendela bus. Liriknya berbicara tentang pengulangan yang obsesif, tentang sesuatu yang terngiang-ngiang tanpa tahu asalnya. Dia menggenggam bantal erat-erat, dagunya gemetar ketika menyadari betapa lagu ini menggambarkan pikirannya selama dua minggu terakhir.
Di antara deretan lagu, ada satu yang membuat napasnya tersendat—'Sharp Edges'. Instrumentalnya diisi oleh suara gesekan pisau yang distemper, menciptakan melodi aneh dari benda tajam. Tiba-tiba saja Aira melihat kembali profil tajam rahang cowok itu, bagaimana tulang belikatnya menusuk kain hoodie setiap kali bus melewati polisi tidur, seperti pisau yang ingin menembus permukaan.
Ketika jam menunjukkan pukul 4:33, Aira menemukan sesuatu yang membuat darahnya beku. Di antara komentar playlist, ada satu username familiar—nama samaran yang sering muncul di forum astronomi yang dia ikuti. Akun itu menulis: 'Sepertinya aku tahu siapa yang membuat playlist ini.' Tanggal komentar itu adalah tepat seminggu setelah hari pertama Aira naik bus sekolah itu.
Matanya mulai perih, tapi dia tak bisa berhenti menggulir. Setiap lagu seperti puzzle piece yang perlahan-lahan membentuk gambar yang membuat dadanya sesak. Ada 'Behind the Mirror' yang bercerita tentang pantulan bayangan, 'Static Electricity' tentang sentuhan yang tak pernah terjadi, dan yang paling menusuk—'Unsaid Emily', lagu piano sederhana tentang semua hal yang ingin diucapkan tapi terkunci di dalam dada.
Ketika fajar mulai menyingsing, Aira mengejutkan diri sendiri dengan tertawa getir. Di luar jendela kamarnya, burung-burung mulai berkicau tidak pada waktunya. Playlist terakhir di akun itu judulnya 'For the Curious Cat', dan tracks-nya semua tentang kejatuhan Icarus, Pandora yang membuka kotak, dan figur-figur mitologi yang hancur karena rasa ingin tahu. Sebuah peringatan? Atau justru undangan?
Mata merahnya akhirnya terpejam ketika sinar matahari pagi mulai menyapu layar laptop. Di kejauhan, suara mesin bus sekolah mulai terdengar. Aira masih bisa merasakan dentuman bass dari lagu terakhir itu bergema di tulang dadanya, seakan-akan jantungnya kini berdetak mengikuti irama playlist misterius tersebut.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.