Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta
Chapter 4: Bisikan yang Menguap di Antara Kita
Kabut pagi menyelimuti koridor sekolah ketika Raka berdiri membeku di depan loker Alena. Matanya menatap lekukan kecil di pintu logam itu—bekas tendangannya setahun lalu saat marah karena Alena tak datang menonton pertandingan penting. Sekarang, jejak-jejak kemarahan itu berpendar dalam diam saat melihat bagaimana jari Alena gemetar memutar kombinasi angka, punggungnya menegang seperti hewan buruan saat menyadari kehadirannya. 'Aku...' Raka memulai kalimat yang tersangkut di kerongkongan ketika Alena mendadak berbalik, tas ransel menghantam pinggangnya sendiri dengan keras. Dua detik tatapan kosong terlontar sebelum gadis itu bergegas menjauh, meninggalkan selembar kertas latihan matematika yang tercecer—di sudutnya ada coretan gambar bulan sabit dengan air mata.
Kelas sejarah pagi itu menjadi siksaan tersendiri. Raka duduk tiga bangku di belakang Alena, memperhatikan bagaimana pundak kanannya sesekali naik turun seperti orang menggigil. Ketika Pak Hari menceritakan kekejaman perang, sebuah suara teredam keluar dari arah Alena. Semua kepala menoleh kecuali Raka yang justru menunduk dalam—ia tahu itu bukan tangisan karena pelajaran, tapi getaran itu membuat telapak tangannya berkeringat dingin. Di lantai, bayangan mereka hampir bersentuhan, tapi jurang dua meter antara bangku terasa lebih dalam dari palung Mariana.
Jam istirahat hari ini berbeda. Alena tak lagi muncul di kantin. Raka menemukannya di perpustakaan paling sepi, duduk di antara rak buku sejarah yang berdebu. Sepotong sandwich utuh tergeletak tak tersentuh di samping buku catatan yang penuh coretan acak—banyak kata 'hilang' dan 'terjebak' berulang hingga merobek kertas. 'Kamu sakit?' tanya Raka mencoba mendekat, tapi Alena langsung menutup buku itu dengan keras, jari-jarinya mencengkeram lengan kiri bajunya sampai berkerut. 'Hanya lelah,' bisiknya sambil menyusuri celah rak buku seperti tikus mencari lubang pelarian. Raka menghentikan langkah ketika melihat pantulan cermin di ujung lorong—Alena sedang menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.
Sepulang sekolah, Raka mematahkan janji latihan tim untuk pertama kalinya. Ia menyelinap mengikuti Alena yang berjalan lambat menyusuri trotoar sepi. Di ujung jalan, seorang pria berjas hujan abu-abu mendekatinya. Tubuh Raka menegang sebelum menyadari itu ayah Alena—wajahnya murung ketika meraih tas putrinya yang terlihat terlalu berat untuk tubuh kurus itu. Dari balik pohon trembesi, Raka menyaksikan bagaimana Alena tiba-tiba meraih pelukan ayahnya, bahunya bergetar tak terkendali. Ia tak pernah melihatnya melakukan itu sebelumnya; Alena selalu bangga akan kemandiriannya. Hatinya berdesir ketika pria itu membuka lengan kiri baju Alena sebentar—cukup untuk menunjukkan semburat merah kebiruan yang membuat Raka tersedak rasa bersalah.
Malam itu, Raka menggedor pintu rumah Alena dengan napas tersengal. Lampu kamar tidur di lantai dua mati tiba-tiba ketika langkahnya terdengar. 'Aku tahu kamu belum tidur!' teriaknya mencoba menahan gemetar. Ibu Alena keluar dengan wajah lelah, 'Dia demam tinggi, Nak. Sudah tiga hari ini.' Udara dingin menusuk paru-paru Raka ketika ia menatap jendela kamar yang gelap gulita. Di bawah pohon manggis depan rumah, ia menemukan boneka kelinci kecil—hadiah ulang tahun pertamanya untuk Alena yang katanya terlalu kekanakan—kini terkubur lumpur hujan dengan benang merah di lehernya seperti tanda gantung diri.
Sampah di kamar Raka makin menumpuk. Ia tidak lagi membersihkan tumpukan kaos basket atau kaleng minuman energi. Di tengah kekacauan itu, hanya satu benda yang selalu rapi: kertas konser sobekan yang direkatkannya lembar demi lembar hingga membentuk lukisan abstrak dari kekecewaan. Subuh menjelang, ponselnya menyala dengan notifikasi dari akun lama Alena di media sosial—pembaruan status tanpa kata, hanya foto pergelangan tangan digigit sampai luka dengan caption '#terjebak'. Raka memuntahkan air mineral yang baru diminum ketika menyadari itu foto tanggal kemarin; bekas gigitan yang sesuai dengan barisan giginya sendiri pada gagang pintu rumahnya tempo hari.
Angin pagi membawa gemerisik daun pisang di dekat jendela kamar Alena. Raka memanjat pagar besi yang sudah ia hapal lekukannya, jari-jarinya mencengkeram jeruji seperti narapidana. Dari celah tirai yang terbuka sedikit, ia menyaksikan Alena tengah meremas-remas sepatu basket lama miliknya—hadiah pertama Raka yang dulu selalu dibanggakan. Tiba-tiba gadis itu mengeluarkan gunting dari bawah bantal, dan dengan gerakan hampa mulai mencabik-cabik sepatu itu. Potongan demi potongan kulit sepatu terlempar ke keranjang sampah, tapi tangis yang Raka harapkan tak kunjung pecah. Yang ada hanya senyum tipis menakutkan ketika gunting itu berpindah ke lipatan siku kiri bajunya, mengunting sampai sobekan kain itu membentuk bintang berujung lima.
Ketika lonceng masuk berbunyi, Raka menyaksikan Alena tersenyum ramah pada kelompok perempuan yang dulu sering ia hindari. Tawanya menggema di koridor—terlalu nyaring, terlalu paksa seperti rekaman rusak. Berdiri di balik tangga darurat, Raka mengirimkan pesan kesekian kalinya: 'Aku lihat semuanya'. Tidak ada jawaban, hanya getaran pendek ketika ponsel Alena berdering—sebuah nada dering baru yang tak ia kenal. Dari kejauhan, di antara kerumunan itu, mata Alena menatap kosong ke arahnya. Tak ada kemarahan atau kesedihan, hanya kehampaan yang membuat Raka merasa seperti mayat berjalan yang tak diakui.
Bayangan mereka terpotong rapi oleh cahaya lampu sorot lapangan basket beberapa jam kemudian. Raka melemparkan bola ke tembok gudang olahraga hingga menciptakan irama repetitif seperti detak jantung rusak. Setiap dentuman keras adalah suara pintu rumah Alena yang berdecit ditutup di depan wajahnya, setiap pantulan pendek adalah senyum palsu yang menghantui setiap jam istirahat. Ketika malam mulai menggantungkan bintang-bintangnya, ia menemukan secarik kertas di dalam sepatunya—tulisan tangan Alena yang tak salah lagi: 'Temui aku di ruang alat kebersihan belakang perpustakaan, jam 9 malam.' Sebuah gorden telah dibuka, tapi Raka tak menyadari bahwa yang menanti di baliknya mungkin bukan panggilan rekonsiliasi, melainkan pusaran terakhir sebelum salah satu mereka tenggelam selamanya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.