ketakutan akan kematian
Chapter 5: Kabar Duka
Setelah keluar dari rumah sakit, Alena merasa sedikit lega. Udara segar yang ia hirup sejak pagi membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Tapi, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat ia sedang dalam perjalanan pulang, telepon genggamnya berdering. Dari ujung telepon, suara perawat yang kemarin ia kenal terdengar lembut namun berat. 'Alena, saya ingin memberitahukan sesuatu yang penting,' kata perawat itu. Alena mendengarkan dengan hati-hati, perasaannya mulai tidak enak. 'Rian, anak kecil yang kamu temui kemarin, dia telah meninggal pagi ini,' lanjut perawat itu. Alena merasa dunia berhenti sejenak. Hatinya langsung hancur. Ia tidak bisa percaya bahwa anak yang kemarin masih tersenyum, sekarang sudah tiada. Ia menutup teleponnya dan terduduk di pinggir jalan. Air mata mulai mengalir deras dari matanya. Pikirannya kacau. Ia teringat kata-kata Rian kemarin, tentang penerimaan dan keberanian menghadapi kematian. Tapi entah mengapa, itu semua tidak membuatnya merasa lebih baik sekarang. Ia merasa sedih, marah, dan kecewa. Mengapa anak sebaik Rian harus pergi begitu cepat? Ia terus menangis, tidak peduli dengan orang-orang yang lewat di sekitarnya. Hatinya penuh dengan kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.