Angka yang Sah

Chapter 4: Jerat Validasi

Kursor berkedip-kedip di atas draft email ketujuh. Renata menekan backspace lagi, menghapus kata 'tolong' yang menurutnya terdengar terlalu memelas. Tangannya berkeringat meski AC perpustakaan menyemburkan udara dingin. Akhirnya dia mengirim versi paling steril:

'Bapak Wisnu yang terhormat,
Saya mohon kesediaan Bapak untuk konsultasi mengenai kekurangan analisis tugas terakhir. Apakah besok jam 10.00 layak?'

Balasan datang lima belas menit kemudian—tepat ketika dia mulai meragukan keputusannya. Hanya satu baris: 'Ruang 307. 10:15.'


Pintu kayu ek itu lebih berat dari kelihatannya. Renata mengatur napas sebelum mengetuk tiga kali. Suara Pak Wisnu dari dalam langsung merespons: 'Masuk.'

Ruangannya sempit untuk seorang profesor. Tirai jendela digulung rapi, membanjirkan cahaya pagi ke tumpukan kertas sistematis di meja kerjanya. Pak Wisnu tidak mengangkat kepala dari laptop, tangan kirinya menunjuk kursi kosong tanpa kata.

'Laporan metodologi,' ujarnya begitu Renata duduk. Dia menyodorkan printout penuh coretan merah. 'Anda menggunakan paradigma konstruktivis tapi merujuk ke kerangka positivistik. Paradoks yang disengaja?'

Renata menelan ludah. 'Bukan disengaja, Pak. Saya pikir...'

'Pikirannya belum terlihat di sini.' Jarinya mengetuk-ngetuk kalimat di halaman dua. 'Meta-analisis ini datar. Lihat.' Dia membalik kertas, menulis cepat skema logika alternatif. 'Masalahnya bukan salah, tapi belum matang.'

Dia menjelaskan selama dua puluh menit tanpa jeda. Istilah-istilah akademis melayang seperti serbuk sari—jelas namun tak bisa dipegang. Setiap kali Renata ingin berargumen, Pak Wisnu sudah mengantisipasi dengan pertanyaan baru yang membuatnya kembali terdiam.

Di akhir penjelasan, dia menyipitkan mata. 'Anda punya potensi besar, Renata. Tapi potensi itu baru bermanfaat kalau...' Kalimatnya terputus oleh dering telepon di meja. Dia mengangkat gagangnya, memberi isyarat pada Renata untuk menunggu di luar.

Sembari berdiri di koridor, Renata memandang ke dalam ruangan melalui celah tirai. Pak Wisnu sedang tertawa di telepon, tangan kanannya secara tak sengaja memain-mainkan pena merah yang selalu dipakai mengoreksi tugasnya. Benda itu berputar-putar di antara jemari seperti senjata yang santai.

Sponsor
Banner sponsor muncul setelah chapter selesai dibaca agar ritme membaca tetap utuh.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

Tidak sengaja bertemu dia

Diah tidak pernah menyangka, satu pertemuan kecil dengan Aril akan membuka cerita cinta yang perlahan tumbuh di antara m...

Baca

Terjebak oleh jearatan Iblis

Pagi tiba dengan damai. Maya berdiri di bawah sinar matahari, merasakan kehangatan yang sesungguhnya

Baca

Surat untuk Hari Terakhir

Nara menulis surat setiap hari untuk dirinya di masa depan, tanpa pernah menjelaskan alasannya pada siapa pun. Reno meng...

Baca

Playlist untuk Kamu

Setiap pagi di bus sekolah, Aira selalu melihat seorang cowok duduk di kursi belakang, mengenakan headset besar, menatap...

Baca

Penantang Takdir

Saat gerbang antar dimensi terbuka di bumi, selurung dimensi terhubung. Sistem antar bintang yang memiliki konsel level...

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca