Angka yang Sah

Chapter 2: Parameter Pengakuan

Rabu pagi, Renata duduk di baris yang sama di kelas Filsafat Ilmu, tapi kali ini dengan buku teks terbuka sepuluh menit sebelum perkuliahan. Matanya menelusuri bab tentang epistemologi yang sempat dibahas minggu lalu—persiapan yang dia anggap wajib setelah menyadari setiap pertanyaan Pak Wisnu selalu menuntut referensi teks spesifik.

Suara sepatu menyentuh lantai marmer terdengar tepat pukul 07.30. Tapak-tapak itu berhenti di depan kelas sebelum Pak Wisnu masuk, membawa udara berbeda dibandingkan dosen-dosen lain. Jas abu-abunya rapi, tapi ujung dasinya agak miring—detail kecil yang membuat Renata berpikir mungkin ini satu-satunya ketidaksempurnaan yang diizinkan dalam lingkungan kampus yang terstandardisasi.

"Hari ini kita bahas bias konfirmasi dalam riset," ujarnya langsung, tanpa salam. "Siapa bisa beri contoh aktual terkait metode ilmiah?"

Tangan Renata terdorong naik sendiri sebelum dia sempat menyensor impuls itu. Suaranya keluar rata: "Eksperimen psikologi Stanley Milgram. Partisipan terus memberikan setrum listrik karena percaya obyektivitas prosedur mengesahkan tindakannya."

Lensa kacamata Pak Wisnu berbinar ketika menatapnya. "Bagus. Anda—" dia menunjuk langsung ke arah Renata, "—sudah menyentuh intinya: otoritas ilmu bisa menjadi alat legitimasi kekerasan." Jeda dua detik itu terasa seperti standing ovation. Semburat hangat menjalar di dada Renata, berbeda dari dinginnya AC ruangan.

Jam-jam berikutnya berjalan dalam ritme debat intelektual ketat. Pak Wisnu memotong setiap argumen emosional dengan analogi deduktif, memaksa mahasiswa bicara dalam bahasa data dan logika. Ketika seorang mahasiswa menyebut "common sense", telunjuknya mengetuk papan tulis. "Common sense adalah bias yang menyamar. Kita bertempur dengan senjata metodologi di sini," tegasnya. Renata mencatat frasa itu dengan garis bawah tiga kali berwarna merah.

Di kelas lain hari itu, kuliah terasa hambar. Dosen Ekonomi membacakan slide presentasi dengan monoton, suaranya seperti sintesiser komputer. Renata menyelinap ke perpustakaan di jam istirahat dengan kopi hitam. Matanya tak sengaja menangkap jurnal di rak dekat meja baca—paper Pak Wisnu tentang etika penelitian yang terbit di jurnal internasional. Dia meminjamnya tanpa berpikir.

Saat matahari condong ke barat, Renata kembali duduk di ruang A301. Pak Wisnu sedang menulis di papan tulis, lengan bergerak dalam sudut presisi 45 derajat ketika menulis rumus inferensi statistik. "Poin terakhir," katanya sambil berbalik, "objektivitas adalah mitos jika kita mengabaikan framework di balik metode. Tetapi, tanpa mengejar objektivitas, kita terjebak pada subjektivitas primitif."

Pertanyaan Renata meluncur—menguji batas teori itu dengan studi kasus dampak krisis ekonomi yang sedang dipelajarinya. Jawaban Pak Wisnu datang dalam bentuk pertanyaan balik yang merobek asumsi-asumsi dasar argumennya. Dia menjawab dengan analisis perbandingan dua teori ekonomi, suaranya meyakinkan meski ibu jarinya menekan telapak tangan.

Detik terakhir kuliah, Pak Wisnu tidak langsung menghapus papan tulis seperti minggu lalu. Dia menuliskan judul paper yang direkomendasikan. "Untuk yang ingin eksplor lebih dalam," ujarnya sambil meletakkan spidol. Matanya—untuk pertama kalisa—bertemu mata Renata sebelum akhirnya dia memutar badan dan keluar.

Sebelum tidur, Renata menyusun jadwal belajar baru. Khusus untuk Rabu besok, dia menambahkan dua jam ekstra baca jurnal terkait filsafat ilmu. Ketika lampu kamar padam, bayangan pertanyaan terakhir Pak Wisnu terus berputar di benaknya seperti sistem roda gigi presisi.

Fotokopi paper yang dipinjamnya berantakan di atas meja. Di margin halaman tujuh, tulisan tangannya sendiri berbunyi: nilaimu adalah validasimu. Dia tidak ingat mencoretkan kalimat itu.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca

Lolongan Terakhir di Hutan Kelam

Di sebuah desa terpencil dekat hutan, serangkaian kematian brutal terjadi. Hewan ternak dan manusia ditemukan tewas deng...

Baca

Sehabis Mencintai, Aku Belajar Melepaskan

Kisah Rania bermula dari cinta yang begitu dalam, namun meninggalkan luka yang menghancurkan. Ia berusaha bangkit di ten...

Baca

Primadona Mengejar Pecundang

Dita, primadona dan peringkat pertama SMA Permata Kasih, awalnya menganggap Zeno sebagai siswa bodoh tak berguna. Namun...

Baca

Bukan Untuk Kita Bertiga

Rani, Dira, dan Aldo bersahabat sejak kuliah. Namun semuanya mulai berubah saat Rani diam-diam jatuh cinta pada Aldo, ya...

Baca

Bukan Gamon

Vira baru saja putus dari Hamdan dan merasa dunia runtuh. Ia gagal move on, hingga Hadnyan—teman mantan yang dikenal cue...

Baca