Si Bodoh yang Jenius
Chapter 4: Beban yang Tak Terpahami
Lampu kamar Maria menyala hingga larut malam, menerangi tumpukan buku yang berserakan di atas meja kayu lapuknya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi ketika tangannya yang menggigil masih mencoret-coret rumus matematika di kertas buram. Dadanya sesak setiap kali pandangannya berpindah dari buku teks ke coretannya yang selalu salah. 'Kenapa aku tidak mengerti?' bisiknya dengan suara parau sambil menggosok mata yang sudah bengkak karena kelelahan.
Di luar jendela, hujan gerimis membasahi jalanan sepi. Maria mengulum pensilnya erat-erat sampai giginya meninggalkan bekas di kayu. Air mata panas mengalir deras ketika dia menyadari bahwa rumus yang sedang dipelajarinya adalah materi yang sama dengan yang ditanyakan Bu Siska kemarin - pertanyaan yang membuat Jojo menertawakannya di depan kelas.
Keesokan harinya, lingkaran hitam di bawah mata Maria semakin jelas. Selama pelajaran kimia, dia mencoba mencatat dengan cepat setiap kata yang diucapkan Pak Budi, tapi tangannya gemetar terlalu kuat hingga tulisan menjadi tidak terbaca. 'Mari, tolong jawab soal nomor 5,' tiba-tiba suara guru itu menyadarkannya dari konsentrasi.
Maria berdiri perlahan, lututnya seperti terbuat dari jelly. Di mejanya, catatannya berantakan dengan coretan yang tidak karuan. 'Saya...' suaranya tercekat ketika melihat Jojo di barisan depan sedang memutar-mutar pulpen dengan ekspresi menantang. 'Tidak tahu, Pak.'
Tawa kecil beberapa teman terdengar. Jojo mengangkat tangannya dengan sigap. 'Saya bisa menjawab, Pak!' Dengan penuh percaya diri, dia menjelaskan rumus stoikiometri sambil sesekali melirik ke arah Maria yang sekarang memegang erat pinggiran mejanya sampai buku jarinya memutih.
Istirahat siang itu, Maria tidak pergi ke kantin. Dia tetap duduk di kelas sambil menatap buku fisika yang terbuka di halaman hukum Newton. Bibirnya bergerak-gerak seperti orang gila, mengulang-ulang penjelasan yang sama tapi tetap tidak masuk ke kepalanya. Di luar jendela, Jojo dan Reza sedang berlarian sambil tertawa, suaranya yang khas itu membuat Maria tiba-tasa menutup telinga.
Ketika bel pulang berbunyi, Maria adalah yang terakhir keluar dari kelas. Tasnya berat dengan membawa semua buku pelajaran. Di sudut lorong dekat taman, dia melihat Bu Siska sedang berbicara dengan beberapa guru lain. 'Gadis itu perlu bimbingan khusus,' bisik Bu Siska yang sampai ke telinga Maria. 'Nilainya bisa membahayakan ranking sekolah.'
Maria berbalik badan dengan cepat, jantungnya berdetak kencang. Tanpa sadar kakinya membawanya lari ke toilet perempuan. Di balik pintu tertutup, dia menekan kepalanya ke dinding dingin sambil menahan isak. Di sakunya, ada sobekan kertas ujian bahasa Inggris yang masih bernilai merah - pemberian Jojo yang sengaja 'terjatuh' dari meja kemarin.
Tapi yang tidak diketahui Maria, di seberang lorong, Jojo sedang berdiri dengan wajah masam. Matanya mengikuti lari kecil Maria tadi. Tangannya tanpa sadar meremas kertas gambar bunga matahari yang dia simpan sejak di perpustakaan. 'Dasar bodoh,' gerutnya, tapi langkah kakinya menolak untuk pergi dari tempat itu sampai Maria keluar dari toilet dengan wajah sudah dicuci bersih.
Malam itu lagi-lagi Maria terjaga. Di atas mejanya sekarang ada lima buku catatan berbeda, masing-masing berisi materi yang sama tetapi dengan penjelasan berbeda. Tangannya yang mulai kapalan masih menulis tanpa henti. Tetapi ketika jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi, tiba-tasa saja dia melemparkan semua bukunya ke lantai dengan jeritan kecil yang tertahan. 'Aku tidak bisa! Aku benar-benar tidak bisa!'
Di hari berikutnya, Maria datang ke sekolah dengan mata merah dan catatan baru. Selama pelajaran matematika, dia mencoba berkonsentrasi penuh, tapi pikirannya seperti kabur setiap kali Pak Hendra menulis di papan tulis. Ketika quiz mendadak diumumkan, tangannya berkeringat deras hingga membuat kertas jawaban basah dan robek.
Jojo yang duduk dua baris di depannya sesekali menoleh dengan alis terangkat. Kali ini, ketika melihat Maria menggigit bibirnya sampai hampir berdarah, dia tidak mengeluarkan komentar pedas seperti biasa. Justru, ada kedutan aneh di dadanya yang membuatnya tidak nyaman.
Di perpustakaan setelah sekolah, Maria sekarang duduk di sudut paling tersembunyi. Di depannya ada laptop pinjaman dari sekolah yang memutar video tutorial pembelajaran. Tapi air matanya jatuh menetes ke keyboard ketika tetap tidak mengerti setelah video diputar ulang sepuluh kali. 'Aku harus bisa. Aku harus...' desisnya putus-putus.
Jojo yang kebetulan lewat melihat pemandangan itu dari balik rak buku. Tangannya tanpa sengaja mengetuk deretan buku hingga membuat Maria kaget. Saat mata mereka bertemu, untuk pertama kalinya Jojo tidak punya kata-kata hinaan. Bibir Maria bergetar sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya di balik buku tebal.
Sepanjang perjalanan pulang, kaki Jojo terasa berat. Gambar mata Maria yang penuh air mata tadi tidak mau hilang dari pikirannya. Sialan, kenapa dia harus peduli? Tapi ketika melewati toko buku, tanpa sadar dia berhenti dan membeli buku catatan baru dengan gambar bunga matahari di sampulnya - persis seperti yang sering digambar Maria.
Sementara itu, di rumah Maria yang sepi, gadis itu menatap hasil ulangannya yang masih merah di semua mata pelajaran eksak. Tangannya menulis pesan pendek di buku hariannya: 'Aku sudah mencoba segalanya. Tapi mungkin... mungkin aku memang tidak berbakat.' Air matanya jatuh menodai tinta biru itu, menciptakan bercak-bercak seperti kelopak bunga yang layu.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.