Menara Seratus.
Chapter 5: Pasir Pengkhianat
Udara berubah panas menyengat begitu platform batu berhenti berputar. Pasir keemasan yang awalnya terlihat indah dari kejauhan ternyata berkilau terlalu tajam, seperti serpihan kaca yang siap mengiris kulit. Ravi mengeluarkan air dari kantong minumnya, tetapi tetesan itu menguap sebelum sempat menyentuh bibirnya. "Tempat ini... menghisap lebih dari sekadar kelembaban," desis Lira sambil menekan dada kirinya, wajahnya pucat.
Langit tanpa matahari berwarna coklat kemerahan, seakan tertutup kabut darah kering. Setiap langkah kaki mereka tenggelam hingga pergelangan kaki dalam pasir yang bergerak seperti organisme hidup. Ravi merasakan tarikan aneh dari bawah—bukan menarik tubuhnya, tapi sesuatu yang lebih dalam. Ingatan-ingatan kecil mulai tercabut dari pikirannya: nama guru SD-nya, aroma masakan ibu, warna sepatu pertama yang pernah dibelikan ayahnya.
Lira tiba-tiba menjerit. Kaki kanannya terhisap hingga paha oleh pusaran pasir yang muncul tiba-tiba. "Ini bukan pasir biasa!" teriaknya sambil mencoba membidikkan panah ke bawah, tetapi tali busurnya langsung hancur menjadi debu. Ravi berusaha menariknya, tapi spiral di telapak tangannya menyala merah menyala, memancarkan gelombang kejut yang justru mempercepat proses penghisapan.
Badai pasir tiba-tiba bergemuruh di kejauhan. Bentuknya membesar dengan kecepatan tak wajar, membentuk wajah-wajah penderitaan yang berteriak dalam senyap. Lira sudah terhisap hingga pinggang ketika sosok tinggi muncul dari pusaran debu—pria bertopeng tembaga dengan jubah dari kain yang terbuat dari pasir yang mengeras. Tangannya yang bersarung logam menebas ke arah pusaran pasir, memutus aliran energinya dengan gerakan ahli.
"Jangan bernapas," suara sang penyelamat bergema dari balik topeng yang dihiasi hieroglif aneh. Dia melemparkan dua buah kristal ke tanah yang langsung mengembang menjadi kubah transparan menutupi mereka bertiga. Di luar kubah, badai pasir menerjang dengan amukan yang memekakan telinga, memuat jeritan ratusan jiwa yang terjebak.
Ravi memperhatikan detail topeng pria itu—simbol matahari dengan sayap yang sama persis dengan tato di punggungnya sendiri. "Kau siapa?" tanyanya sambil tanpa sadar menggenggam telapak tangan yang masih berdenyut menyakitkan.
"Namaku Karn," jawabnya singkat sambil membersihkan pisau ritual yang dihunuskannya dari balik jubah. Matanya yang terlihat dari celah topeng memandang tajam ke spiral di tangan Ravi. "Dan kau seharusnya tidak boleh sampai ke sini, Penggenggam Segel."
Lira yang sudah bebas sepenuhnya langsung mengarahkan pisau belatinya ke arah Karn. "Jika kau berniat jahat, lebih baik kau kabur sekarang," geramnya. Tapi Karn hanya tertawa—suaranya seperti gemerisik pasir di gua purba.
"Aku bukan musuhmu—setidaknya belum," katanya sambil menunjuk ke horison di mana siluet menara muncul seperti ilusi fatamorgana. "Mereka mengirim Lovai ke lantai lima. Dia masih hidup, tapi tak akan bertahan lama dengan ujian di sana." Lira terkejut mendengar nama saudarinya disebut.
Karn tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Ravi dengan kekuatan yang membuat tulang berderak. "Spiral ini... kau bahkan tak menyadari betapa berbahayanya dirimu," bisiknya penuh ancaman sebelum melepaskan genggamannya. "Jalan tercepat melewati padang kematian ini adalah dengan persembahan—darah dari salah satu dari kalian."
Angin di luar kubah kristal tiba-tiba berubah menjadi bisikan-bisikan menggoda dalam puluhan bahasa, menjanjikan keselamatan asal mereka mau mengorbankan satu nyawa. Lira dan Ravi saling pandang, sementara Karn mengeluarkan jam pasir dari jubahnya yang butir-butir pasirnya bergerak melawan gravitasi.
Di kejauhan, patung-patung pasir raksasa mulai bangkit, masing-masing membawa senjata dari zaman yang telah lama terlupakan...
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.