Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia
Chapter 4: Bayang-Bayang yang Terlupakan
Langit biru elektrik di balik jendela kaca anti peluru Suite Royal hanya menyinari kehampaan. Nara menatap ponselnya yang ke-39 kali menunjukkan notifikasi "Pesan telah dibaca" tanpa balasan dari Arkana. Dua minggu sejak pameran seni kontemporer yang ia datangi dengan Raka—dua minggu dimana suaminya berubah jadi hantu dalam kehidupan mereka sendiri.
Meja makan marmer seluas tiga meter hanya dihiasi sepiring croissant basi dan sepucuk surat dari manajemen hotel: "Hotel memohon maaf harus menagih kartu kredit Nyonya karena rekening joint account telah diblokir." Nara tertawa getir mengingat bagaimana Arkana dengan gugup memintanya menandatangani dokumen pemisahan aset pekan lalu—"Untuk perlindunganmu jikalau ada tuntutan hukum," katanya sambil menatap layar laptop yang memamerkan foto wanita berbikini magenta sebagai wallpaper.
Ketika elevator berbunyi, Nara bergegas menyambut dengan harapan palsu. Tapi yang muncul hanya asisten pribadi Arkana membawa koper diplomatik. "Bapak sedang krisis likuiditas," ujar pemuda itu tanpa kontak mata, "Semua aset bergerak disita sementara. Bapak meminta Nyonya pulang ke rumah orang tua." Sebuah amplop cokelat berisi tiket pesawat ke Surabaya dan uang tunai lima juta rupiah tergeletak dingin di meja console.
Malam itu, Nara menyelinap ke ruang kerja Arkana—sebuah benteng kaca dengan kode keamanan yang tak pernah diubah sejak hari pernikahan: 0712, tanggal pertunangan mereka. Komputer masih menyala, memamerkan spreadsheet keuangan yang dipenuhi catatan merah bertuliskan "Fraud Detected". Di antara tumpukan dokumen, matanya menangkap brosur Properti Megah Indah—perusahaan pengembang milik Raka—dengan stempel merah "AKUISISI DITOLAK" dan coretan tangan Arkana: "R.R. masih bisa diselesaikan lewat jalur non-formal."
Hujan mulai menggema di atap kaca ketika Nara menemukan album foto pernikahan mereka tersimpan di bawah laci rahasia. Di balik halaman-halaman kebahagiaan artifisial, terselip foto polaroid usang: Raka muda berdiri di depan maket rumah melati dengan tangan kotor tanah, wajahnya bersinar bangga. Tertulis di pinggirnya dengan tinta memudar: "Untuk N.R., awal dari semua mimpi kita." Darah Nara berdesir kencang—Arkana sengaja menyimpan ini sebagai senjata psikologis.
Pukul 03:17, dering telepon darurat memecah kesunyian. Layar menunjukkan nomor tak dikenal, tapi suara di seberang membuat Nara menggigil: "Jawab pertanyaanku," desis Arkana dengan suara serak beralkohol, "Apa harga yang Raka tawarkan untuk membelimu? Apartemen di Senopati? Proyek arsitektur? Atau..." Dentuman gelas pecah menyela, diikuti bisakan wanita tertawa. Nara menutup telepon secepat ia memutuskan tak akan lagi menjadi korban dalam permainan mereka.
Di balkon yang menjorok ke jurang kota, ia mengirimkan pesan pertama kepada Raka: "Apakah tawaran melihat maket rumah melati masih ada?" Sambil menunggu balasan, jari-jarinya menari di atas kalung mutiara—hadiah pernikahan yang tiba-tiba terasa berat bagai belenggu. Butiran mutiara itu kini seperti mata-kamera Arkana yang selalu mengawasi.
Fajar menyingsing ketika dering bel masuk berbunyi. Pelayan hotel mengantarkan karangan bunga Edelweis dengan kartu bertanda tangan R.R.: "Mereka yang terdampar di laut sama-sama berhak mencari rakit penyelamat. Tunggu di lobby jam 10.00—mobil silver dengan plat B 140 RR." Nara menyentuh kelopak bunga yang tak bisa layu itu, tiba-tiba menyadari: Arkana mungkin telah melupakannya, tapi Raka mengingat bahkan ketakutannya pada bunga potong yang mati.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.