Kehidupan Kota

Chapter 3: Bab 3: Kehidupan Sederhana di Kota Kecil

Setelah pulang dari sekolah, Sinta berjalan kaki menyusuri jalanan berdebu di kota kecilnya. Udara siang yang hangat menyelimuti tubuhnya, sementara suara deru mesin traktor dari kejauhan mengisi telinganya. Ia melewati rumah-rumah kayu sederhana yang berjajar rapi, dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman hias dan bunga-bunga warna-warni. Sinta tersenyum, menikmati keindahan sederhana yang selalu ia temui setiap hari.

Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Bu Marni, tetangga yang tinggal di ujung jalan. Bu Marni sedang menyapu halaman rumahnya, sambil sesekali melambai kepada Sinta. "Selamat siang, Sinta! Sudah pulang sekolah?" sapa Bu Marni dengan suara ramah. Sinta mengangguk sambil tersenyum, "Iya, Bu. Baru pulang." Mereka bercakap-cakap sebentar tentang rencana membersihkan sungai di akhir pekan, sebelum Sinta melanjutkan perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Sinta disambut oleh aroma masakan ibunya yang sedang sibuk di dapur. "Selamat siang, Bu," sapa Sinta sambil meletakkan tasnya di kursi. Ibunya menoleh dan tersenyum, "Selamat siang, Nak. Ayo, cuci tangan dulu, sebentar lagi makan siang." Sinta menuruti perintah ibunya, lalu duduk di meja makan bersama ayahnya yang baru saja pulang dari sawah.

Mereka bertiga makan siang bersama, sambil bercerita tentang kegiatan masing-masing. Ayahnya menceritakan tentang hasil panen yang mulai membaik, sementara ibunya bercerita tentang rencana membuat kue untuk acara desa. Sinta mendengarkan dengan antusias, sambil sesekali menambahkan cerita tentang kegiatan di sekolah. Suasana hangat dan penuh cinta ini membuat Sinta merasa bersyukur atas kehidupan sederhana yang ia miliki.

Setelah makan siang, Sinta membantu ibunya membersihkan dapur. Mereka bercakap-cakap tentang impian Sinta untuk menjadi seorang guru. "Aku ingin mengajar anak-anak di desa ini, Bu. Aku ingin mereka bisa meraih mimpi mereka, seperti yang aku lakukan," kata Sinta dengan mata berbinar. Ibunya tersenyum bangga, "Kamu pasti bisa, Nak. Asalkan kamu terus berusaha dan tidak pernah menyerah."

Di sore hari, Sinta duduk di teras rumah sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan. Ia memandang ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi jingga, sambil membayangkan masa depan yang cerah. Meskipun hidupnya sederhana, ia tahu bahwa impiannya bukanlah hal yang mustahil. Dengan tekad dan kerja keras, ia yakin bisa mencapainya. Bab ini pun berakhir dengan nuansa harapan dan kesederhanaan, meninggalkan jejak indah dalam hati Sinta dan semua yang mengenalnya.

Sponsor
Banner sponsor muncul setelah chapter selesai dibaca agar ritme membaca tetap utuh.

Rekomendasi Novel

Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.

deleted

delete

Baca

Penantang Takdir

Saat gerbang antar dimensi terbuka di bumi, selurung dimensi terhubung. Sistem antar bintang yang memiliki konsel level...

Baca

Ketika Bertahan Tak Lagi Bernama Cinta

Raka dan Alena adalah pasangan lama yang bertahan bukan karena bahagia, melainkan karena takut kehilangan. Di balik hubu...

Baca

CEO yang belajar Melihat Dari Gadis Buta

seorang CEO muda yang sukses namun dingin Dan tertutup akibat penghianatan di masa lalunya. hidupnya berubah ketika bert...

Baca

le

harus bisa

Baca

Saat Bosan Mengajarkan Penghianatan

Alya dan Raka adalah pasangan SMA yang terlihat sempurna, namun kebosanan perlahan menggerogoti hubungan mereka. Saat pe...

Baca
Her Eyes on Me

Her Eyes on Me

pertemuan ttidak sengaja seorang laki-laki denganku di sebuah hotel untuk kegiatan kementerian. Laki-laki itu menaruh ra...

Baca

Ketika Janji Menjadi sebuah Rahasia

Pernikahan yang terlihat utuh perlahan retak saat kesepian membuka pintu bagi masa lalu. Di antara janji yang diucapkan...

Baca

Si Bodoh yang Jenius

Jojo, cowok pintar yang sombong, awalnya menertawakan Maria, siswi baru cantik keturunan Chinese yang bodoh dalam pelaja...

Baca