He Likes My Best Friend, But He Looks At Me
Chapter 2: Rasa yang Tidak Pernah Berubah
Setiap kali Arka bercanda dengan Naya, aku hanya menjadi pendengar yang diam. Suara tertawa mereka menyatu seperti dua aliran air yang tak pernah berhenti, menciptakan harmoni yang sempurna di antara mereka. Aku duduk di sampingnya, seperti sebuah bayangan—terlihat, tetapi tidak pernah sempurna. Jika kelas ini adalah sebuah panggung, maka kuasa di sini adalah milik mereka. Aku hanya duduk di samping, menggenggam buku yang kusempurnakan dengan pikiran yang selalu bergerak, mencari arti dari kehidupan yang terasa begitu jauh.
Tidak pernah ada satu kalimat pun yang terucap kepadaku. Arka, yang sekilas menganggapku sebagai bagian dari kehidupan ini, tidak pernah memandangku dengan lebih dari sekadar seorang teman setia. Tapi aku tidak pernah tahu mengapa. Bukan karena aku tidak penting, tapi mungkin karena kebahagiaan mereka membangun dinding yang tak bisa ditembus, dan aku hanya bekerja keras untuk bisa mendekat.
Saat Arka menertawakan Naya dengan cara yang unik, aku merasakan hati ini bergetar. Tidak tahu mengapa, tapi rasa iri muncul seperti tanaman yang tumbuh di antara kaca. Aku memandang mereka, merasakan suara tertawa mereka yang mengisi ruang yang seharusnya aku penuhi. Tapi aku hanya diam, hanya mendengar, hanya mengingat. Karena mungkin, untukku, kebahagiaan itu adalah sesuatu yang tidak pernah bisa terucapkan.
Kesunyian kelas ini bagai sebuah teater yang tidak pernah berakhir, dan aku adalah penonton yang tidak pernah bisa menjadi bagian dari cerita. Tapi aku berusaha—dengan hati yang terus bergerak, mencoba memahami diriku sendiri, bahkan ketika kebahagiaan mereka begitu jauh.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.