Hatiku untuk Selamanya
Chapter 5: Bab 5: Kehampaan di Rumah Sederhana
Diana melangkah perlahan ke dalam rumah sederhana yang ditinggali bersama ayahnya selama bertahun-tahun. Udara di dalam rumah terasa dingin, seolah-olah kehangatan yang pernah ada telah pergi bersama dengan kepergian ayahnya. Dia melepas sepatunya di depan pintu, seperti yang selalu dia lakukan, dan berjalan ke ruang tamu. Kursi favorit ayahnya masih terletak di sudut ruangan, seolah-olah menunggu pemiliknya untuk kembali duduk dan membaca koran seperti biasa.
Dia duduk di sofa, matanya menatap kosong ke dinding. Pikirannya melayang ke masa lalu, ketika ayahnya masih ada di sisinya. Dia ingat bagaimana ayahnya selalu tersenyum, bahkan di saat-saat sulit. Dia ingat suara tawanya yang hangat, dan bagaimana dia selalu ada untuknya, memberikan dukungan dan cinta tanpa syarat.
Dia merasakan air mata mengalir di pipinya, tetapi dia tidak berusaha untuk menghentikannya. Dia membiarkan dirinya merasakan kesedihan yang mendalam, kehampaan yang mengisi hatinya. Dia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi, dan dia harus belajar untuk hidup tanpa kehadiran ayahnya.
Dia bangkit dari sofa dan berjalan ke kamar ayahnya. Dia membuka pintu perlahan, seolah-olah takut mengganggu ketenangan yang ada di dalamnya. Kamar itu masih teratur, seperti yang selalu ayahnya jaga. Dia duduk di tempat tidur, meraba-raba bantal yang masih berbau seperti ayahnya. Dia mengambil bantal itu dan memeluknya erat, seolah-olah dia bisa merasakan kehadiran ayahnya di sana.
Dia tahu bahwa dia harus kuat, bahwa dia harus melanjutkan hidupnya. Tapi untuk saat ini, dia membiarkan dirinya merasakan kehampaan itu, merasakan kesedihan yang mendalam. Dia tahu bahwa ayahnya akan selalu ada di hatinya, dan dia akan selalu mencintainya, selamanya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.