Hatiku untuk Selamanya
Chapter 2: Bab 2: Detik-Detik Terakhir
RS Harapan terasa begitu sunyi malam itu, hanya suara mesin-mesin medis yang memecah keheningan. Diana duduk di kursi plastik keras di ruang ICU, matanya tak lepas dari sosok ayahnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya yang dulu begitu kuat kini terlihat rapuh, terikat oleh selang-selang dan kabel yang menghubungkannya dengan mesin penunjang hidup. Setiap tarikan napasnya terasa berat, seolah-olah setiap detik adalah perjuangan.
Diana menggenggam erat tangan ayahnya, mencoba menahan air mata yang terus mengalir. 'Ayah, aku di sini,' bisiknya, suaranya gemetar. Dia berharap ayahnya bisa mendengar, bisa merasakan kehadirannya. Tapi ayahnya hanya terbaring diam, wajahnya pucat dan tenang, seolah-olah sudah menerima takdirnya.
Dokter yang bertugas mendekat, wajahnya serius. 'Kondisi ayahmu sangat kritis,' katanya dengan suara pelan namun tegas. 'Kami sudah melakukan semua yang kami bisa.' Diana mengangguk pelan, hatinya hancur. Dia tahu apa yang akan terjadi, tapi dia tidak siap. Tidak pernah siap.
Beberapa menit kemudian, mesin penunjang hidup mulai berbunyi lebih kencang, tanda-tanda vital ayahnya semakin melemah. Diana menutup matanya, mencoba menenangkan diri, tapi tangisnya tak bisa dibendung. 'Ayah, jangan pergi,' bisiknya lagi, suaranya hampir tak terdengar. Tapi ayahnya hanya tersenyum lemah, seolah-olah memberikan pesan terakhirnya tanpa kata-kata.
Dan kemudian, semuanya berhenti. Mesin-mesin itu terdiam, ruangan kembali sunyi. Diana menatap ayahnya, air matanya mengalir deras. Dia tahu, ayahnya sudah pergi. Tapi di tengah kesedihan yang mendalam, dia merasakan ketenangan. Ayahnya tidak lagi menderita. Dia telah pergi dengan damai.
Diana duduk di sana, masih menggenggam tangan ayahnya, mencoba menyerap setiap detik terakhir mereka bersama. Dia tahu, hidupnya akan berubah selamanya setelah ini. Tapi dia juga tahu, ayahnya akan selalu ada di hatinya, mengawasi setiap langkahnya.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.