Di Antara Dua Hati
Chapter 5: Pilihan yang Menyakitkan
Setelah pertemuan dengan Aldi, Siska merasa hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aldi, orang yang ia percayai dan cintai, ternyata memiliki perasaan terhadap Rara. Malam itu, ia menghabiskan waktu sendirian di kamarnya, menangis dan merenungkan segala yang telah terjadi.
Siska tahu ia tidak bisa terus-menerus larut dalam kesedihan. Ia harus bangkit dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Pagi berikutnya, ia memutuskan untuk berbicara dengan Rara. Ia ingin mendengar langsung dari Rara apa yang sebenarnya terjadi.
Di sekolah, Siska menemui Rara di kantin saat istirahat siang. "Rara, kita perlu bicara," kata Siska dengan suara tegas tapi tidak bermusuhan.
Rara merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini akan terjadi, tapi ia tidak siap menghadapinya. "Oke, Siska. Ada apa?"
Mereka pergi ke sudut kantin yang lebih sepi. Siska menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. "Aku udah tahu tentang perasaan kamu sama Aldi. Aku juga udah bicara sama Aldi, dan dia ngaku punya perasaan sama kamu."
Rara merasa dadanya sesak. "Siska, aku nggak bermaksud untuk menyakiti kamu. Aku cuma nggak bisa bohong sama perasaanku."
Siska mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku ngerti, Rara. Tapi kamu tahu kan kalau aku sama Aldi udah pacaran lama? Aku nggak bisa terima kalau dia punya perasaan sama orang lain."
Rara merasa bersalah. "Aku nggak mau hubungan kalian rusak karena aku, Siska. Aku cuma nggak bisa menahan perasaanku."
Siska menarik napas lagi, mencoba menenangkan diri. "Aku nggak marah sama kamu, Rara. Aku cuma butuh waktu untuk memikirkan semuanya. Tapi aku harap kamu ngerti kalau ini nggak mudah buat aku."
Rara mengangguk, matanya juga berkaca-kaca. "Aku ngerti, Siska. Aku nggak mau kehilangan persahabatan kita."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Siska tahu ini adalah akhir dari hubungannya dengan Aldi, tapi ia juga tidak ingin kehilangan Rara sebagai teman.
Sementara itu, Aldi merasa hancur karena telah menyakiti Siska. Ia tahu ia harus mengambil keputusan, tapi ia tidak tahu harus memilih siapa. Suatu sore, ia memutuskan untuk berbicara dengan Rara.
"Rara, kita perlu bicara," kata Aldi dengan suara serius.
Rara mengangguk, hatinya berdebar-debar. "Oke, Aldi. Ada apa?"
Mereka pergi ke taman sekolah, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama. Aldi menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. "Aku udah bicara sama Siska, dan dia tahu tentang perasaan kita. Aku nggak mau nyakitin dia, tapi aku juga nggak bisa bohong sama perasaanku."
Rara merasa dadanya sesak. "Aku ngerti, Aldi. Aku nggak mau hubungan kalian rusak karena aku."
Aldi mengangguk, matanya penuh penyesalan. "Tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu, Rara. Aku bingung harus gimana."
Rara merasa air matanya hampir menetes. "Aldi, kita nggak bisa egois. Siska pantas mendapatkan yang terbaik."
Aldi diam sejenak, lalu tiba-tiba ia memegang tangan Rara. "Tapi aku nggak mau kehilangan kamu, Rara."
Rara merasa hatinya tercabik-cabik. Ia tahu ini salah, tapi ia tidak bisa menolak perasaan yang sudah lama ia pendam. "Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Aldi."
Mereka duduk dalam keheningan, masing-masing tenggelam dalam kebingungan mereka sendiri. Rara tahu ini adalah awal dari sesuatu yang lebih rumit, tapi ia tidak bisa menahan perasaannya. Sementara Aldi, di sisi lain, mulai merasakan konflik yang semakin dalam.
Ini adalah awal dari gelombang kebingungan yang akan menguji hubungan mereka bertiga.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.