Boss Perkasa
Chapter 4: Inspeksi Lokasi di Malang
Cahaya pagi menyelinap melalui jendela bermarmer di apartemen Kevin, memantulkan kilauan koper Rimowa aluminium yang sudah terpacking rapi. "Flight jam 9 pagi," gumamnya sambil mengecek itinerary di iPhone 14 Pro Max, matanya sesekali melihat jam tangan Patek Phillipe Nautilus yang melingkari pergelangannya.
Kevin: "Irene, kita perlu cek tiga lokasi potensial hari ini. Bawa semua data analisis demografi dan traffic count." Suaranya terdengar melalui handsfree Mercedes Maybach yang sedang melaju menuju bandara.
Di terminal business class, Irene sudah menunggu dengan setelan pantsuit Hugo Boss warna taupe dan tas messenger Bottega Veneta. Laptop ThinkPad X1 Carbon terlihat mengintip dari tasnya, bersama dokumen print out yang tersusun rapi dalam map leather Montblanc.
Pesawat Garuda Indonesia Boeing 737-800 lepas landas tepat waktu. Irene segera membuka spreadsheet di laptopnya. "Lokasi pertama hanya 10 menit dari airport, tapi tanahnya lebih mahal 30% dari budget," jelasnya sambil menunjukkan grafik perbandingan.
Mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh Malang, udara pegunungan yang segera menyambut mereka. Mobil Toyota Alphard yang sudah dipesan mengantar mereka melalui jalanan yang dikelilingi pohon-pohon tinggi.
Selama 6 jam mereka berkeliling, mengukur akses jalan, mengecek visibility dari jalan raya, sampai survey kompetitor sekitar. "Area ini terlalu jauh dari pusat wisata," komentar Kevin sambil melihat keramaian di seberang jalan, jarinya mengetuk-ngetuk dashboard mobil.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka tiba di lokasi ketiga - sebuah lahan luas dengan view langsung ke Gunung Arjuna. "Ini perfect," bisik Irene, kamera iPhone-nya terus mengklik dokumentasi. "Tapi perlu renovation besar untuk drainage system," tambahnya sambil menunjuk ke beberapa titik.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam ketika mereka memutuskan kembali. Tapi jalanan macet parah akibat kecelakaan truk di jalur utama. Mobil hanya bisa bergerak merayap, AC menyemburkan udara dingin yang semakin menegangkan suasana.
Sampai di Hotel Mercure pukul 1 pagi, resepsionis dengan muka masam menggeleng. "Maaf Pak, kamar Ms. Irene di Shangri-La sudah tutup check-in jam 12. Sistem kami menunjukkan Anda sekarang harus berbagi executive suite..."
Kamar suite seluas 60m² itu terasa semakin sempit. Irene berdiri kaku di dekat balkon sambil masih memegang iPad-nya, sementara Kevin membuka minibar dan mengambil air mineral Evian. "Kita perlu meeting cepat besok pagi jam 7," ujarnya mencoba bersikap profesional, meski kerutan di kemeja Armani-nya menunjukkan kelelahan.
Suara gesper tas Hermès yang dibuka Irene terdengar jelas dalam kesunyian kamar. "Saya sudah booking breakfast meeting di lounge jam 6:30," jawabnya tanpa menoleh, jari-jarinya yang halus masih sibuk mengetik sesuatu di keyboard laptop.
Dua single bed terpisah dengan meja kerja di tengah menjadi pemisah alami. Lampu temaram dari lampu meja mencoba menyamarkan kegugupan yang terasa di udara, sementara aroma kopi dari mesin Nespresso mulai mengisi ruangan.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.