Bisikan di Lorong Gelap
Chapter 4: Bayangan Kegelapan
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aidan berjalan menelusuri jalanan sepi yang diterangi oleh lampu-lampu jalan yang redup. Rasanya, setiap langkahnya diikuti oleh suara gesekan kaki di aspal, namun saat ia berbalik, tak ada siapa pun di sana. Paranoia mulai merayap di benaknya. Ia teringat pada korban-korban yang selalu mendengar bisikan sebelum akhirnya ditemukan tewas. Bisikan-bisikan itu, seperti sesuatu yang tak kasat mata, selalu ada di sekitarnya.
Ia mempercepat langkahnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah imajinasinya. Namun, semakin cepat ia berjalan, semakin jelas suara itu terdengar mengikuti. Desahan napas yang berat, langkah kaki yang sinkron dengan miliknya, terlalu nyata untuk diabaikan. Aidan berhenti sejenak, jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke belakang, dan di balik bayangan panjangnya sendiri, ia melihat sosok tinggi berdiri, kepala menunduk, wajahnya tertutup kegelapan.
Sosok itu tidak bergerak, hanya diam, seolah menunggu. Aidan merasa udara di sekitarnya semakin menebal, sulit bernapas. Tanpa berpikir panjang, ia berlari sekuat tenaga, meninggalkan bayangan itu sendirian di tengah jalan. Namun, tidak peduli seberapa cepat ia berlari, rasa itu tetap ada—rasa bahwa ia tidak pernah benar-benar sendiri. Bahkan ketika ia tiba di rumahnya dan mengunci pintu dengan kencang, ia tahu. Sesuatu atau seseorang sedang mengawasinya, dan itu hanya menunggu waktu untuk menyerang.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.