Bayang-Bayang di Balik Rindu
Chapter 3: Bab 3: Tuntutan Waktu
Lampu neon di kantor startup itu masih menyala terang meski jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Arka duduk di mejanya, mata lelah menatap layar laptop yang dipenuhi kode dan grafik. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba menyelesaikan proyek yang harus diserahkan besok pagi. Suasana kantor yang biasanya ramai kini sepi, hanya terdengar suara mesin pendingin udara yang berdentum lembut.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir kelelahan yang mulai merambat di tubuhnya. Ingatannya melayang ke apartemen sempitnya di pusat kota, tempat ia sering merenung tentang mimpi besar yang belum tercapai. Tapi sekarang, bahkan untuk sekadar merenung pun ia tak punya waktu. Startup tempatnya bekerja menuntut segalanya dari dirinya—waktu, energi, bahkan hidup pribadinya.
Ponselnya bergetar, mengingatkannya pada pesan yang belum dibalas dari ibunya. Dengan berat hati, ia mengabaikannya lagi. 'Nanti saja,' gumamnya dalam hati, sambil memfokuskan kembali perhatian pada layar laptop. Namun, di balik tekadnya untuk menyelesaikan pekerjaan, ada sesuatu yang terus menggelisahkan hatinya—perasaan bahwa ia sedang kehilangan sesuatu yang lebih penting.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.