Asmara yang Terkikis: Cinta di Ambang Luka
Chapter 3: Bab 3: Bayang-Bayang Posesif
Cahaya sore yang hangat menyinari ruang tamu kecil di apartemen Nadia. Ia duduk di sofa, memegang secangkir teh hangat, sementara Reza berdiri di depan jendela, pandangannya kosong. Udara di antara mereka terasa berat, seolah ada sesuatu yang tak terucapkan menggantung di antara mereka.
"Nadia, kenapa kamu selalu membalas pesan teman-temanmu itu?" tanya Reza tiba-tiba, suaranya datar namun penuh dengan nada cemburu.
Nadia terkejut. Ia menoleh ke arah Reza, mencoba membaca ekspresinya. "Maksudmu siapa, Rez? Aku hanya membalas pesan biasa," jawabnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
Reza berbalik, matanya menatap Nadia dengan intens. "Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan orang lain. Aku merasa... kamu mulai menjauh dariku."
Nadia merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Rez, kamu tahu kalau aku selalu ada untukmu. Ini hanya teman-teman biasa. Kita kan masih sama seperti dulu?"
Tapi Reza tak mendengar. Ia mendekati Nadia, wajahnya penuh dengan kegelisahan. "Aku tidak ingin kamu berbicara dengan siapa pun selain aku. Kamu milikku, Nadia. Hanya milikku."
Kalimat itu seperti pukulan bagi Nadia. Ia merasa terperangkap, tak tahu harus berkata apa. Cinta yang dulu begitu indah mulai terasa seperti belenggu. Namun, di dalam hatinya, ia masih berharap ini hanya fase yang akan berlalu.
"Rez, aku mencintaimu. Tapi kita perlu mempercayai satu sama lain," ucap Nadia lembut, berusaha menenangkan Reza.
Reza mendekat, memegang tangan Nadia dengan erat. "Aku tidak ingin kehilanganmu. Kamu adalah segalanya bagiku."
Nadia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, tetapi untuk saat ini, ia memilih untuk bertahan. Mungkin, pikirnya, ini hanya ujian kecil dalam hubungan mereka.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.