Asmara Sekolah: Pandangan Pertama yang Mengubah Segalanya
Chapter 3: Kantin yang Sunyi
Di luar kelas, udara sore hari yang hangat menyelimuti kantin. Rangga berjalan dengan langkah perlahan, pikirannya masih menggambarkan wajah Ayla yang selalu muncul di benaknya. Setiap langkah terasa seperti perjalanan yang tak pernah selesai, seakan dirinya tertahan di antara dunia nyata dan dunia yang hanya ada di dalam pikirannya.
Ia berhenti di depan pintu kantin, menghirup napas dalam. Suara-suara kantin yang biasanya penuh terdengar samar, seolah-olah udara itu begitu berat dan penuh makna. Ia memasuki ruangan, dan tepat di sudut kantin, di bawah lampu yang redup, Ayla duduk sendirian. Buku yang ia baca terlihat begitu bersih, seakan ia tidak pernah mengganti halaman, seperti masa lalu yang tidak pernah berubah.
Ia tidak bisa membantu tetapi menatapnya. Ayla tidak membalas tatapan, seolah ia tidak sadar kehadiran Rangga. Namun, Rangga tahu, ia sedang membaca sesuatu yang terlalu dalam untuk dibiarkan terbaca oleh siapa pun. Ia merasa hatinya berdebar, bagai serpihan kecil mengalir menghiasi jantungnya. Ia ingin berbicara, tapi suaranya seperti tersangkut di dalam dada. Ia hanya bisa menghela napas, mengabaikan rasa canggung yang terus-menerus menghantui dirinya.
Ayla masih duduk, seperti cahaya yang tidak pernah padam dalam kegelapan. Di dalam pola pikir Rangga, Ayla adalah segalanya yang ia tidak tahu bagaimana mengatakan. Dan di sini, di kantin yang sepi, ia merasa semakin jauh dari dirinya sendiri.
Rekomendasi Novel
Novel populer yang bisa kamu coba setelah ini.